Sore itu halaman rumah keluarga Adelison diselimuti cahaya matahari yang mulai meredup. Angin membawa aroma bunga dari taman kecil di samping rumah, tapi keindahan itu tidak mampu menenangkan hati Christin.
Dia duduk sendirian di bangku kayu dekat halaman, tatapannya kosong menembus langit oranye. Di meja kecil di sampingnya ada wadah kecil berisi opioid. Dengan gerakan lambat, dia mengambil satu butir, meletakkannya di lidah, lalu memakannya pelan. Ada rasa getir yang menempel di gigi dan lidah, tapi itu sudah biasa, ketenangan semu yang selalu dia cari.
Christin baru saja meraih wadah itu lagi ketika suara lembut memecah lamunannya.
"Papa!"
Dia langsung menoleh. Dari arah pintu rumah, Angel berlari kecil dengan gaun rumah sederhana, wajahnya berseri-seri. Di depan pagar, sosok yang mereka panggil Papa berdiri dengan senyum hangat, membuka tangannya lebar. Angel memeluknya erat, seperti kupu-kupu kecil yang menemukan tempat kembali.
Christin membeku sesaat. Jantungnya berdetak lebih cepat, bukan karena senang, tapi karena panik. Dengan gerakan cepat, dia menyembunyikan wadah opioid ke bawah meja, menyamarkan jejak dosanya.
Lalu, ia berdiri, menata wajahnya dengan senyum tipis yang dipaksakan seolah tidak terjadi apa-apa. Perlahan dia menghampiri, menyapa dengan suara seramah yang bisa dia buat.
"Papa..."
Sosok ayah itu menoleh, matanya berbinar. Senyum yang sama hangatnya dia berikan pada Christin, "Christin..." suaranya dalam, penuh kebapakan.
Namun kehangatan itu tidak berlangsung lama. Angel yang masih memeluk erat lengan ayahnya menoleh ke Christin, wajahnya berubah dingin. Ada ketidaksukaan yang jelas, seakan dia tidak ingin berbagi kasih sayang itu dengan siapa pun, bahkan dengan kakaknya sendiri.
Christin menatap adiknya sekilas, lalu kembali tersenyum pada Papanya, berusaha menutupi gejolak yang menyesakkan di dalam dadanya. Senyum itu tipis, rapuh, dan penuh rahasia yang tidak boleh diketahui siapa pun.
"Papa, jadi kita jalan-jalan kan?" tanyanya ruang dengan mata berbinar.
Papa menatap jam tangannya, lalu menghela napas, "Aduh... Papa baru ingat, ada meeting penting sore ini. Kayaknya Papa nggak bisa ikut."
Wajah Angel langsung meredup. Dia menggenggam erat tasnya, matanya berkaca-kaca, "Tapi Papa janji sama Angel."
Sebelum suasana makin tegang, Christin melangkah mendekat dengan langkah percaya diri, "Kalau begitu biar aku saja yang menemani Angel, Pa. Lagi pula, aku punya waktu hari ini."
Papa menoleh, tampak lega. Senyum muncul di wajahnya, "Wah, bagus sekali. Papa senang kalau kamu bisa menemani adikmu. Itu lebih baik daripada sendiri."
Angel langsung memalingkan wajah, ekspresinya jelas menunjukkan ketidaksukaan, "Aku maunya sama Papa," gumamnya lirih.
Papa menunduk, suaranya lembut seolah menenangkan, "Sayang, Papa ngerti... tapi Papa harus selesaikan meeting dulu. Coba kali ini jalan sama Kak Christin dulu ya, Papa janji nanti kita jalan berdua. Oke?"
Angel tetap cemberut, menendang-nendang pelan lantai dengan sepatu kecilnya. Saat menoleh, matanya menangkap senyum tipis Christin-senyum yang baginya terlihat sinis, seakan Christin puas bisa merebut momen itu.
Angel menggenggam tangannya kuat-kuat, perasaan tak nyaman mulai tumbuh di dadanya.
*
Malam itu, lampu-lampu butik pakaian modern bertuliskan "BIANCA LUXE" menyala hangat. Kaca besar di depannya memantulkan cahaya jalan, memperlihatkan rak-rak penuh koleksi pakaian terbaru. Suasana toko terasa elegan, sesuai karakter pemiliknya, Bianca.
Di dalam toko, Nathan berdiri di depan deretan kemeja, tangannya sibuk menyusuri kain dan memerhatikan detail satu per satu. Tatapannya serius, seolah sedang menimbang sesuatu yang penting.
Tanpa dia sadari, dari ruangan belakang, Bianca baru saja keluar. Dia menghentikan langkahnya ketika matanya menangkap sosok Nathan. Ekspresinya sempat terkejut kecil, tapi kemudian tersenyum samar.
"Eh... Nathan?" ucap Bianca sambil mendekat.
Nathan menoleh sebentar, hanya mengangguk tipis, "Oh... hai."