PRATIKARA (SEASON 2)

Ira A. Margireta
Chapter #4

Bab 4. Arena Tanpa Peluru

Lorong menuju arena tembak itu sepi. Azalea melangkah pelan, pikirannya masih kacau. Saat dia membuka pintu, suara dentuman peluru membuatnya refleks menahan napas.

Di dalam, Arion berdiri dengan pistol di tangannya. Fokus, tapi keningnya sedikit berkerut. Bidikannya meleset dari titik tengah papan sasaran.

Azalea melihatnya, “Bagus,” ucapnya, suaranya lembut.

Arion menoleh singkat, agak terkejut, “Kamu di sini?”

“Maaf, aku nggak tahu kalau ada orang,” Azalea tersenyum kecil, berusaha menutupi canggungnya.

"Gapapa," jawab Arion dengan setengah senyum.

"Aku lihat, kamu pandai dalam menembak," ujar Azalea sambil berjalan mendekati Arion.

Arion menghela napas pendek, “Itu jauh dari tengah.”

“masih di bilang sempurna,” Azalea mendekat, matanya menatap papan sasaran.

“Mau nggak... ngajarin aku?”

Arion mengerutkan kening, “Aku sendiri belum jago.”

“Justru itu. Kita belajar bareng. Anggap aja aku murid nekat yang maksa gurunya,” Azalea menatapnya sambil tersenyum tipis.

Arion sempat terdiam, lalu akhirnya menyerahkan pistol ke tangannya. Dia berdiri di belakang Azalea, perlahan membenarkan posisi tangan dan sikap berdirinya.

“Tarik napas... fokus... jangan tegang,” bisiknya.

Azalea mencoba mengikuti. Tapi sesaat sebelum dia menekan pelatuk, matanya tanpa sengaja bertemu dengan mata Arion yang begitu dekat. Ada jeda aneh—hening yang tak nyaman tapi juga sulit dihindari.

BRAK—pintu mendadak terbuka.

Christin berdiri di ambang pintu. Matanya langsung menangkap kedekatan mereka, tatapan yang saling terikat. Rokok yang biasanya ada di jarinya kini tak ada, diganti dengan ekspresi dingin yang sulit ditebak. Udara di ruangan itu seketika berubah.

Matanya menelusuri pemandangan di depannya—Azalea masih menggenggam pistol dengan posisi tangan yang jelas baru saja dibenarkan Arion, jarak keduanya terlalu dekat dan menjadi hening.

Lalu, senyum tipis muncul di bibir Christin. Tapi bukan senyum ramah, melainkan dingin, penuh sindiran.

“Lucu sekali,” ucapnya datar, suaranya tajam menusuk, “Kalian kelihatan... menikmati momen berdua, ya?”

Azalea refleks menurunkan pistolnya, wajahnya memerah, “Bukan seperti itu. Aku cuma—”

“Belajar menembak?” potong Christin cepat. Tatapannya tajam mengunci mata Azalea, seakan menantang, “Kebetulan guru privatnya Arion, hm?”

Arion menghela napas berat, berusaha tenang, “Christin, jangan salah paham. Aku cuma—”

“Cuma apa?” Christin mendekat, langkah kakinya bergaung di lantai keras arena tembak. Tatapannya beralih ke Arion, penuh tekanan.

“Kau tahu, Arion… orang yang nggak bisa menembak tepat sasaran biasanya juga nggak bisa menjaga fokus.”

Arion terdiam. Azalea bisa merasakan ketegangan yang makin pekat.

Christin lalu beralih menatap Azalea lagi, kali ini lebih menusuk.

“Dan kau, Azalea… seharusnya tahu batas. Kalau ingin belajar menembak, ada banyak cara. Tapi kalau kau sengaja mencari perhatian…” dia tersenyum miring, sinis, “…kau sedang bermain di tempat yang salah.”

Lihat selengkapnya