Azalea duduk di tepi tempat tidur Oliv, matanya tertuju pada layar komputer yang terbuka. Deretan folder dengan nama-nama acak memenuhi layar—membuatnya penasaran sekaligus was-was. Perlahan, dia mengklik salah satu folder.
Sekejap kemudian, wajahnya berubah pucat. Tanpa pikir panjang, dia langsung mematikan video yang tengah diputar. Suara hatinya berdebar, bayangan adegan di video itu masih menempel di pikirannya.
“Ini… di mana kamu dapatkan video ini?” suaranya bergetar, hampir tak terdengar.
Oliv menatapnya dingin tapi tenang, “Christin menyimpannya di komputernya,” jawabnya singkat.
Azalea menelan ludah, mencoba menenangkan pikirannya, “Tapi… bagaimana bisa kamu mengambilnya?”
Oliv menyeringai tipis, “Aku menyamar sebagai tukang service CCTV. Orang-orang tidak akan menaruh curiga sama tukang service.”
Azalea menunduk, matanya kosong. Bayangan video panas Bu Mina dan Leo terus berputar di kepalanya. Hatinya bergemuruh—antara marah, jijik, dan takut, “Aku… aku nggak percaya ini semua…,” gumamnya pelan, hampir pada dirinya sendiri.
Azalea meletakkan laptop Oliv di atas meja belajar dengan gerakan pelan, seolah takut akan memicu sesuatu. Matanya tanpa sengaja tertumbuk pada sebuah tumpukan buku di sudut meja. Ada sesuatu yang menonjol di bawahnya.
Dengan hati-hati, dia menggeser buku-buku itu dan menemukan sebuah foto. Sesaat dia membeku. Foto itu tampak seperti hasil USG. Jantungnya berdetak lebih kencang.
“USG ini… milik siapa?” tanyanya, suaranya hampir berbisik.
Oliv mengangkat bahu, ekspresinya datar, “Christin,” jawabnya singkat, tanpa menatap Azalea.
Azalea menatap foto USG itu dengan mata terbelalak, hatinya berdebar kencang, “Christin… hamil?” suaranya nyaris tak terdengar, antara percaya dan terkejut.
Oliv mengangguk pelan, “Iya… tapi aku nggak yakin sama siapa dia melakukan ini.”
Matanya menatap ke arah lain, menandakan ada sesuatu yang berat di pikirannya, “Aku menemukan foto USG itu di laci kamar Christin.”
Azalea menghela napas panjang, mencoba menenangkan pikirannya. Dunia di sekelilingnya terasa tiba-tiba lebih rumit. Semua rahasia yang selama ini tersembunyi, kini mulai menumpuk di depannya—dan Christin ternyata menyimpan rahasia yang jauh lebih besar dari yang dia duga.
Azalea menatap Oliv, matanya penuh pertanyaan, “Apa dengan.... Nathan?”
Oliv menggeleng pelan, “Tidak. Nathan tidak pernah menyukai Christin.”
Azalea menelan ludah, masih sulit percaya, “Tapi… mereka kan pernah berpacaran.”
Oliv tersenyum tipis, penuh kepahitan, “Itu cuma dramanya Christin. Sebenarnya Nathan menolak dia sejak awal, tapi Christin tetap memaksa. Lalu dia membuat rumor seolah mereka pacaran. Semua orang percaya, kecuali Nathan sendiri. Christin terlalu terobsesi dengan Nathan. ”
Azalea menghela napas panjang, mencoba mencerna informasi itu. Semakin dia mendengar cerita Oliv, semakin jelas bahwa banyak hal yang selama ini terlihat sederhana ternyata penuh manipulasi dan kebohongan.
Azalea mengerutkan kening, suaranya terdengar pelan tapi tegas, “Dengan siapa dia melakukannya?”
Oliv menatapnya sejenak, lalu matanya menyorot foto yang sempat dikirim Azalea—foto Arion dan Christin di kolam renang. Wajahnya menegang saat mengingat momen itu.
“Aku pikir… mungkin Arion,” jawab Oliv akhirnya, nada suaranya berat, “Christin nggak bisa mendapatkan Nathan, jadi… Arion jadi tempat pelampiasannya.”
Azalea menunduk, hatinya campur aduk. Perasaan jijik dan kaget bercampur dengan rasa ingin tahu yang tak tertahankan. Dunia Christin ternyata lebih gelap daripada yang dia bayangkan—dan kini, potongan-potongan teka-teki itu mulai menumpuk di hadapannya, membuat semua hubungan di sekitarnya terasa jauh lebih rumit.
*
Pagi itu cerah, sinar matahari menembus jendela aula sekolah dengan hangat. Suasana ramai—kelas 12 A dan 12 D tengah mengadakan pergelutan yang dipenuhi sorak-sorai siswa. Tawa dan teriakan bersatu menjadi gelombang kegembiraan yang mengisi udara.
Di antara keramaian itu, Leo duduk sendiri di bangku samping lapangan. Matanya menatap jauh, tapi pikirannya melayang ke hal-hal lain, jauh dari hiruk-pikuk pertandingan. Tubuhnya terlihat tegang, seolah menahan sesuatu yang tak bisa dia ucapkan.
Teman di sampingnya menatapnya cemas, “Leo… kamu nggak kayak biasanya, nih. Kenapa diam aja?”
Leo hanya menghela napas tipis, matanya tetap kosong menatap lapangan. Temannya meraba bahunya, khawatir, “Hei, kalau ada yang mengganggu, ceritain aja… jangan dipendam sendiri.”
Leo menekankan rahang, menelan perasaan yang menggelora di dalam dirinya. Dia tahu, apa yang sedang dia pikirkan tidak bisa dengan mudah dibagi—terlalu rumit, terlalu berat.