Sheana langsung merespons dengan detail teknis. Mereka berdua berdiskusi formal. Ellan terus bertanya hal-hal yang sangat rinci, memaksa Sheana untuk berpikir keras dan mengabaikan fakta mereka hanya berdua di belakang.
“Oke. Ke depannya aku nggak mau ada kesalahan lagi. Aku ingin kamu pantau progress setiap enam jam sekali. Kamu harus update ke aku, personally.”
Sheana menoleh. “Setiap enam jam? Ellan, itu nggak efektif. Laporan harian udah cukup—”
“No. Aku minta enam jam. Aku harus memastikan danaku terpakai efisien,” potong Ellan. “Kamu ditunjuk sebagai liaison karena Chairman percaya sama kamu. Jangan kecewakan kami.”
Ellan menyandarkan kepala, menutup mata. “You’ll be spending a lot of time reporting to me, Sheana. Get used to it.”
Sheana hanya bisa menelan ludah, menahan protes. Ellan sedang mengikatnya dengan tugas yang absurd.
Staf di depan hanya mendengar seorang CEO yang perfeksionis.
Bossy. Tegas. Kontrol penuh.
Ia terkesan dengan profesionalisme Ellan. Benar-benar gila kerja.
Tapi Sheana tahu.
Ini bukan soal pekerjaan.
Ini cara Ellan memastikan seluruh waktunya… tersedot ke satu titik.
Ke dia.
Mobil berhenti di depan Aston Ketapang saat langit benar-benar gelap. Lampu hotel menyala terang, memantul di paving yang masih basah.
Begitu turun, Ellan menepuk bahu sopir ringan.
“Kamu pulang dulu. Terima kasih. Nanti Bu Sheana saya pesankan mobil hotel.”
Sopir sempat ragu. “Nggak apa-apa, Pak? Saya bisa nunggu.”
Ellan menatapnya datar.
“Udah malam. Kamu juga butuh istirahat. Pengecekan kamar nggak bisa dipastikan selesai jam berapa.”
Logis. Sopan. Tak terbantahkan.
Sopir mengangguk dan pamit.
Sheana tidak mendengar percakapan itu.
Mereka masuk.
Pengecekan kamar berjalan… menyiksa.
Ellan cerewet. Terlalu detail. Terlalu lama.
“Lampunya terlalu dingin.”
“Tolong cek tekanan air.”
“Aku mau lihat alternatif bed arrangement.”
“Kenapa handuknya beda tekstur?”
Dan setiap kali—
“Please coordinate, Sheana.”
Sheana mengangguk. Jalan. Telepon. Menunggu. Menahan napas.
Ellan tahu persis apa yang dia lakukan.
Waktu ditarik.
Jam dibiarkan melambat.
Malam dipaksa turun lebih dalam.
Setelah semuanya selesai, Ellan menutup folder.
“Makan dulu,” katanya ringan. “Aku belum dinner.”
Sheana ingin menolak. Tapi lelah. Dan… terlalu terlambat.
Restoran hotel sepi. Makan cepat. Percakapan minim.
Jam sudah mendekati sepuluh saat mereka kembali ke lobby.
Sheana berhenti. “Aku pulang dulu.”
Ellan ikut melangkah.
“Aku punya rencana.”