Sheana tertawa hambar, membuang asap ke samping. “Banyak hal yang berubah dalam tiga tahun, Ellan. Aku bukan lagi Sheana yang dulu kamu kenal.”
“Evidently,” gumam Ellan.
Suasana mencair sejenak. Tidak ada CEO, tidak ada staf. Hanya dua orang yang pernah berbagi masa lalu di bawah langit yang berbeda.
“Kamu seharusnya jaga sikap,” kata Sheana tiba-tiba. “Kita lagi kerja. Dan kamu sekarang… suami orang.”
Ellan terdiam, memainkan gelas kosong di tangannya. Ia tersenyum tipis—senyum yang ambigu.
“Mahi orang yang baik,” katanya akhirnya. Nada tenang. Hampir lembut. “She deserves good things.”
Sheana mengangguk kecil. Tapi diam-diam tangannya sedikit mengepal.
“Then don’t make things complicated.”
Ellan tersenyum samar. “You’re the one smoking at two a.m., Shea.”
Sheana menoleh cepat. “Jangan panggil aku kayak gitu.”
Ellan mengangkat tangan sedikit. Tanda menyerah.
“Sorry.”
Sheana menggenggam rokoknya sedikit lebih erat.
“Kamu kelihatan bahagia,” katanya pelan.
Ellan tersenyum samar.
“Appearances are deceiving.”
Sheana mendengus kecil.
“Yeah. Tell me about it.”
Ellan menoleh.
Menangkap sesuatu di wajah Sheana.
“Mahi, dia... perempuan yang nyaris sempurna.” Ellan sengaja menyiram bensin ke bara.
Dada Sheana berdenyut nyeri. Ia berdecak, mematikan rokoknya yang tinggal separuh dengan kasar. “Baguslah kalau gitu. Setidaknya kamu nggak salah pilih.”
Ellan memperhatikan rahang Sheana yang mengeras.
Bingo.
Cemburu itu masih ada.
“Udah malem,” kata Ellan tiba-tiba, berdiri dari kursi. “Ayo balik ke kamar.”
Mereka berjalan bersisian menuju lift. Hening kembali menyelimuti. Sheana merasa mual karena bayangan Ellan dan Mahi yang bahagia.
Sampai di depan kamar, Sheana memegang knop pintu.
“Thanks for the talk, Ellan. Good night.”
Saat ia hendak menutup—
Ellan menahan pintu itu dengan satu tangan.
Sheana mendongak.
Kaget.
Ellan menatapnya lurus.
Tenang.
Tanpa senyum.
Napas Sheana tertahan. Jarak mereka sangat dekat.
“In case you’re wondering…”