Pagi datang terlalu cepat buat Sheana.
Cahaya matahari menyelinap lewat sela tirai, menampar kelopak matanya tanpa izin. Sheana mengerang pelan, menarik bantal menutupi wajah—lalu teringat dengan brutal kenapa dadanya terasa berat sejak bangun.
Ellan.
Kalimat semalam.
Dan kamar sebelah.
Sheana bangkit duduk, mengusap wajah, lalu melirik jam di ponselnya.
06.18.
“Shit…” gumamnya.
Ia berdiri, bergerak cepat. Mandi singkat. Rambut dikeringkan asal. Fokusnya Cuma satu—pulang. Sekarang. Sebelum pagi ini makin rumit.
Ketukan pelan terdengar di pintu kamar Sheana.
Bukan tergesa. Bukan ragu.
Seperti orang yang tahu pintu itu akan dibuka—cepat atau lambat.
Sheana menatap pintu itu lama sebelum akhirnya melangkah dan membukanya.
Ellan berdiri di sana.
Kemeja putih, lengan digulung sampai siku. Rambutnya masih sedikit basah, aroma sabun hotel samar tercium. Wajahnya segar—terlalu segar untuk seseorang yang semalam membuat kepala orang lain penuh kekacauan.
“Morning,” katanya pelan.
Sheana menahan napas. “Pagi.”
Hening sebentar. Canggung. Tapi bukan jenis canggung yang asing.
“Aku mau pulang dulu,” ujar Sheana akhirnya, langsung ke poin. “Ganti baju, trus ke kantor.”
Ellan mengangguk pelan, seolah sudah memperkirakan itu. “Kamu nggak pulang sekarang.”
“Ellan—”
“Just breakfast. Thirty minutes. Downstairs.”
Nada suaranya tenang, tapi final.
Sheana menghela napas kecil. “Itu bikin aku terlambat.”
“I know.”
Sheana mengernyit. “Aku nggak bisa sembarang telat.”
Ellan menatapnya, lalu sedikit mencondongkan tubuh ke kusen pintu. Santai. Terlalu santai.
“Sheana,” katanya pelan, menggunakan nama itu dengan sengaja. “You’re literally working with me today.”
Sheana mendengus kecil. “Don’t flatter yourself.”
“I’m not. I’m stating a fact.”
Ia tersenyum tipis. “Kamu official liaison aku di sini. Kalau kamu telat setengah jam karena sarapan sama klien… nobody’s gonna fire you. I’ll personally explain it to whoever needs an explanation.”
Sheana memalingkan wajah, menimbang. Ia benci mengakui satu hal—Ellan benar.
“Aku pulang naik motor,” katanya mencoba bertahan. “Motorku masih di warung Pak Udin.”
“Aku antar,” jawab Ellan cepat. “Pake mobil hotel.”
Sheana menatapnya tajam. “Ellan.”
“Aku nggak nawar,” balasnya ringan. “Aku pastiin kamu sampai. After that, kamu bebas.”
Nada itu. Nada yang dulu sering ia pakai saat Ellan muda—beda orang, tapi tekadnya sama.
Sheana menghela napas panjang. “You’re really annoying in the morning.”
Ellan tersenyum kecil. “You have no idea.”
Ia melirik jam tangannya. “Ganti sepatu. Dua menit. Aku tunggu.”
Sheana menatap punggungnya saat Ellan berbalik arah, berjalan santai ke lift seolah semuanya sudah diputuskan.
Dan yang paling menyebalkan?
Bagian dari dirinya… tidak ingin menghentikannya.
Sheana menutup pintu pelan, bersandar sebentar. Menghela napas.