Ellan berdiri. Menoleh ke tim kontraktor.
“Fix it. No shortcuts.”
Seorang supervisor mengangguk cepat. “Siap, Pak.”
Sheana mencatat. Tanpa komentar.
Mereka bergerak lagi.
Langkah mereka sinkron—terlalu sinkron untuk dua orang yang katanya Cuma rekan kerja. Beberapa staf mulai menyadari, tapi cukup pintar untuk tidak berkomentar.
Di titik berikutnya, Ellan akhirnya bicara lagi—kali ini ke Sheana.
“Kamu yakin estimasi anggaran tambahan segitu?”
Sheana tidak tersinggung. Ia malah berhenti, berbalik menghadap Ellan penuh.
“Yakin,” jawabnya tenang. “Kalau kamu potong di sini, kamu bakal bayar dua kali lipat setahun lagi.”
Ellan menatapnya lama.
Bukan menantang. Menilai.
“Okay,” katanya akhirnya. “We do it your way.”
Satu detik hening.
Beberapa kepala menoleh. Kaget.
Sheana mengangkat alis tipis. “Semudah itu?”
Ellan tersenyum samar. Hampir tidak terlihat.
“Aku bayar kamu buat mikir. Aku di sini bukan buat menang debat.”
Jawaban itu membuat dada Sheana mengencang—bukan karena bangga, tapi karena sadar satu hal...
Ellan tahu kapan harus memegang kendali.
Dan kapan harus melepasnya.
Mereka melanjutkan survei.
Matahari makin tinggi. Keringat mulai terasa di tengkuk. Tapi ritme kerja justru semakin rapi.
Di sela kesibukan, Ellan mendekat sedikit. Suaranya direndahkan, hanya cukup untuk Sheana.
“You’re good,” katanya singkat.
Sheana tidak menoleh. “I know.”
Ellan terkekeh pelan.
Tepat di saat itu, salah satu staf memanggil, “Pak Ellan, ada satu area lagi yang perlu dicek sebelum siang.”
Ellan mengangguk. Lalu, tanpa sadar, melirik Sheana lebih dulu sebelum menjawab.
“Lead the way,” katanya.
Sheana melangkah.
Dan untuk pertama kalinya hari itu, ia menyadari—
Ini bukan sekadar survei pertama.
Ini medan baru.