Pretty Boy for Sheana

Desy Cichika
Chapter #95

Bad on Purpose

Ellan meletakkan gelasnya dengan denting yang cukup keras di atas meja kayu. Matanya menatap Pak Aditya dengan tatapan yang sangat tenang, tapi menindas.

“Setiap hari?” Ellan terkekeh pendek—jenis tawa yang tidak mengandung humor sama sekali. “Pak Aditya, saran saya... kurangi makan makanan yang terlalu pedas.”

Pak Aditya bingung. “Maksud Bapak?”

​“Too much spice can make people... hallucinate,” jawab Ellan santai, matanya tetap mengunci Pak Aditya. “Maksud saya, selera makan itu harus sesuai dengan... kapasitas. Know your place. Jangan sampai Anda berharap makan menu utama, padahal kapasitas Anda cuma buat appetizer.”

Sheana memejamkan mata. The switch. The insult. Ellan baru saja menguliti Pak Aditya hidup-hidup dengan sangat elegan. Pria itu menandai wilayahnya memakai cara yang paling halus, tapi paling mematikan.

“Pak, coba ini, Pak. Namanya Amplang,” Dila menyodorkan satu plastik bening camilan bulat berwarna putih ke arah Ellan. “Camilan wajib kalau ke Ketapang. Kerupuk rasa ikan.”

Ellan mengambil satu, mencicipinya, lalu mengangguk kecil.

“Enak. Crunchy. Savory,” katanya sambil mengunyah. “But, this is dangerous.”

“Kenapa, Pak?”

Addictive.”

Tawa pecah. Suasana kembali cair.

Sheana tampak asyik ngobrol dengan Dila dan dua staf lain. Nada suaranya berubah. Lebih ringan. Lebih lokal.

​“Mbak Sheana, itu ale-alenya dimakan, jangan diaduk terus,” tegur Dila.

​“Lah... pedas mampus sambalnya. Kebanyakan ngambil tadi,” gerutu Sheana spontan dengan logat Melayu Ketapang yang kental, tangannya sibuk mengipasi mulut.

​Ellan yang sedang menyesap teh botolnya tiba-tiba tersedak kecil. Ia menunduk, mencoba menyembunyikan senyum yang hampir pecah. Ia belum pernah mendengar Sheana bicara seperti itu—kasar, jujur, tapi terdengar sangat... hidup. Berbeda jauh dengan Sheana yang selalu bicara formal dan dingin di depannya.

Sheana menoleh, menangkap senyum itu—dan langsung memalingkan wajahnya, kesal tanpa alasan yang jelas.

Ellan menegakkan kepala, menatap meja.

Ale-ale. Amplang. Tawa staf.

Dan seorang perempuan yang ternyata baik-baik saja tanpanya.

Damn, pikirnya.

Masa tenang my ass.

***

Sore itu, setelah tawa dan candaan terakhir di restoran, rombongan yayasan meninggalkan meja panjang yang penuh cangkang ale-ale. Ellan berdiri terakhir, memastikan semua staf sudah beres. Matahari hampir tenggelam, menyisakan warna jingga di langit Ketapang.

Lihat selengkapnya