Primadona Undercover

I M A W R I T E
Chapter #1

Satu : Kasus Baru

Dua minggu sebelumnya.


"Jadi ... kamu perempuan yang dijodohkan untuk saya?"


"Yap. Kenalin, Icha."


Suasana kafe di sudut kota Jogja tak lagi terasa sama, terutama ketika titik-titik lokasi untuk menenangkan diri, justru diisi oleh distraksi yang paling tidak Felix sukai, wanita dan pernikahan yang dipaksa.


Ini adalah kali ketiga, Isa Prambudi, memaksa Felix untuk setidaknya bicara dan berinteraksi dengan perempuan-perempuan yang masuk ke dalam daftar pilihan versinya sendiri. Tujuannya satu, perjodohan. Isa Prambudi perlu membuktikan bahwa setelah kematian tunangan Felix, putra tunggalnya itu masih doyan perempuan.


Rumor Felix adalah penyuka sesama jenis, kuat beredar di kalangan kolega perusahaan, semenjak beberapa tahun belakangan.


"Berapa banyak yang mereka kasih buat kamu?"


Icha, perempuan Jawa pilihan Isa. Putri dari salah satu kolega bisnisnya. "Maksud kamu?"


"Kamu dijanjikan uang? Perusahaan? Atau ... orang tuamu menjual kamu karena mereka ada hutang?"


PLAK!


Sensasi panas menjalar di pipi. Icha berdiri, menunjuk wajah Felix yang tidak menunjukan ekspresi, "Bajingan!" untuk kemudian pergi.


Semua orang di kafe menatap Felix. Ini seperti tontonan drama sabun yang menghibur dan menarik. Gratis pula. Tapi Felix sudah terbiasa. Dia menarik selembar tisu di sisi cangkir kopinya, kemudian menyeka ujung bibir yang sebenarnya tidak menyentuh apa-apa. Formalitas, atau hanya kebiasaan yang sulit terlupa. Dia berdiri, memasukkan kedua tangan ke saku celana dan berbalik meninggalkan tempat yang akan dia letakkan di daftar 'seharusnya aku tidak kesana'.


Langkah kakinya membawa dia kembali ke bangunan tinggi berlabel 'One Law Firm' di seberang kafe. Jam istirahatnya belum selesai, tapi dia memilih meninggalkan ramai. Duduk di balik meja bertuliskan pimpinan perusahaan. Ini bisnis warisan. Perusahaan keluarga yang dengan mudah dia dapatkan, atau setidaknya begitulah yang orang-orang pikirkan.


Setelah beberapa menit menunggu, dia pergi ke ruang rapat untuk menepati janji temu. Beberapa staff sudah menunggu. Aslan, Reza, Aninda, orang-orang terpilih yang mendapatkan sebuah privillege dari seorang Felix Prambudi;waktu.


"Selamat siang, Pak Felix!" sapa Aslan, pengacara senior yang hobinya jalan-jalan pakai duit perusahaan. Dia berdiri di depan, mendampingi layar proyektor yang tampak sudah dipenuhi angka-angka kotor. "Saya langsung ke intinya saja ya."


Karena semua orang tahu bagaimana cara Felix bekerja, cepat dan tepat.


Lihat selengkapnya