Suara pintu yang berderit menarik perhatian Aninda. Terutama ketika dia menyadari bahwa adik kembarnya, Anjani, sedang berjalan mengendap-endap menuju kamarnya di sudut kontrakan kecil mereka.
"Kemana aja baru balik jam segini?"
Langkah Anjani terhenti. Dia menoleh pelan seperti pencuri. Sambil tersenyum sungkan, dia mencoba menjelaskan, "Eh? Belum tidur, Nin?" basa-basi, tapi Aninda tidak terprovokasi. "Yah... biasalah, ya, namanya juga anak muda."
Aninda melipat kedua tangan di dada, berdiri di ruang tamu yang tidak lebih luas dari kamar mandi mereka di rumah lama. "Anak muda? Usia kamu tahun depan udah tiga puluh, An. Bisa serius dikit nggak?"
"Iya, iya, sori." Anjani pasrah. "Tadi anak-anak datengnya kemaleman, jadi-"
"Kapan kamu mau keluar dari gang nggak jelasmu itu, hah?"
Anjani mendecih, balas mengangkat wajahnya dengan risih. "Apaansih, Nin. Masalah kecil aja dipermasalahin. Udah malem, gue mau ti-" Aninda tiba-tiba mencengkram tangan Anjani, sebelum dia sempat beranjak dari tempat mereka berdiri. "Ada apa lagi?"
"Bisa nggak kamu berubah? Ayah sama ibu tuh udah nggak ada, kita udah nggak punya apa-apa." Anjani menepis tangan Aninda, mencoba memalingkan wajah dari obrolan yang dia tahu arahnya akan kemana. "Cari kerjaan yang bener kek, nggak ada perempuan baik-baik yang keluar malam dan balik subuh-subuh begini, tahu nggak?"
Anjani memutar bola matanya malas. "Gue juga kerja, Nin!"
"Kerja apa? Nulis buku mesummu itu, hah?!" Aninda menunjuk ke sekeliling. "Ada nggak barang-barang di sini yang dibeli dari hasil kamu jadi penulis? Ada? Nggak ada, 'kan?"
Suasana semakin panas saat Aninda meninggikan suaranya. Kepala Anjani berdenyut nyeri karena alkohol yang dia minum bersama rekan-rekan kerja. Dia pun mendengus. "Yaudah, kalo lo ngerasa gue disini cuma jadi benalu, ya lo pergi aja!"
"Kamu paham nggak sih sama masalah yang kita hadapi?!"
"Enggak! Gue nggak paham! Karena di mata lo, gue cuma anak kecilnya ayah ibu yang gagal dan lo ... Aninda Ayu si pengacara hebat yang sempurna! Puas?"
Anjani berjalan melewati saudari kembarnya, dan menutup pintu kamarnya tanpa aba-aba.
BRAK!
Anjani bukannya tidak berusaha. Semenjak orang tua mereka meninggal dalam kecelakaan dan meninggalkan hutang perusahaan, dia juga sudah melakukan apa yang dia bisa;mencari pekerjaan, menjual barang-barang, sampai mencari pinjaman.