CHAPTER 4
Anjani termangu karena kata-kata itu. Apa maksudnya? Masih hidup? Aninda jelas masih hidup, tapi sebelum Anjani sempat mengoreksinya, panggilan di seberang sana sudah berakhir tanpa aba-aba.
“Halo?” Anjani masih mencoba, “Ha-halo?!”
“Nin?”
Suara di belakang tubuhnya membuat Anjani berbalik panik. Dia menyembunyikan ponsel Aninda di balik punggungnya dengan waspada.
Pria berkacamata berdiri di sana. Ekspresi yang awalnya tampak biasa saja, kini berbeda. Dia menunjuk perempuan yang dia kira sebagai Aninda dan berkata, “Beneran Aninda, Cuk!”
Anjani menelan ludah, dia berulang kali membisikkan kata ‘tenang’ untuk dirinya sendiri. Karena memang tidak ada lagi yang bisa menyelamatkannya dalam situasi ini, jika bukan tenang dan tetap berhati-hati. Mata cokelat Anjani memindai sedikit ke bawah, pada lanyard putih yang tergantung di dada sang pria. Reza Ananda. Baik, setidaknya Anjani sudah tahu namanya. Sekarang, Anjani harus berpikir, tentang seberapa jauh hubungan Reza dan Aninda di hari-hari terakhir.
Reza mendekat dan menatap Aninda penasaran. “Sampeyan kok neng kene, Nin? Cutimu kepiye? Pernikahanmu?”
Telinga Anjani sedikit ambigu dengan bahasa yang keluar dari mulut pria itu. Keahliannya dalam menganalisis situasi pun otomatis bekerja. Dia tersenyum, mencoba merespon dengan jawaban yang paling umum. “Batal, Pak.”
Alih-alih tampak puas, Reza justru terlihat semakin penasaran dengan alasan cinta yang kandas. “Kok bisa?!”
Panik, Anjani berusaha mengingat isi novel yang baru kemarin dia ketik. “Anu, p-perbedaan keyakinan.”
“Beda agama?”
“B-bukan.”
Reza mengumam, “Oh! Beda visi misi masa depan?”