Langit di atas Valerion tidak lagi berwarna biru. Awan hitam menggulung seperti badai yang tak kunjung reda, menutupi bulan dan bintang hingga hanya menyisakan cahaya merah samar yang menggantung di langit malam. Dari kejauhan, kobaran api terlihat menjalar di antara atap-atap rumah dan menara batu. Kota yang dulu dipenuhi cahaya lampu dan suara kehidupan kini berubah menjadi lautan api dan bayangan yang menakutkan. Jeritan orang-orang bercampur dengan dentingan pedang dan suara bangunan yang runtuh, menciptakan kekacauan yang terasa seperti mimpi buruk yang tak pernah ingin disaksikan siapa pun.
Di salah satu jalan utama yang kini dipenuhi puing dan pecahan batu, seorang pemuda berdiri dengan pedang di tangannya. Orion. Seragam ksatria mudanya yang berwarna biru perak sudah kotor oleh debu dan darah. Sebagian kain di bahunya robek, dan napasnya terdengar berat setelah pertarungan yang seakan tidak pernah berhenti. Meski begitu, matanya tetap tajam menatap ke depan, mengawasi setiap bayangan yang bergerak di antara kobaran api kota.
Beberapa tubuh makhluk hitam tergeletak di tanah di sekitarnya. Makhluk-makhluk itu memiliki tubuh kurus dengan anggota badan yang panjang tidak wajar, kulitnya gelap seperti arang, dan mata merah yang menyala seperti bara api. Galverth. Pasukan iblis tingkat rendah yang muncul dari portal di langit dan kini membanjiri seluruh kota Valerion.
Orion mengangkat pedangnya sedikit lebih tinggi. “Datang lagi…,” gumamnya pelan sambil menatap gang sempit di depannya.
Suara gesekan terdengar dari balik bayangan. Beberapa Galverth merangkak keluar dari kegelapan, mata merah mereka langsung tertuju pada Orion seolah menemukan mangsa yang masih berdiri di tengah kekacauan. Salah satu dari mereka melompat lebih dulu sambil mengeluarkan geraman kasar yang hampir menyerupai tawa.
Orion bergerak tanpa ragu. Pedangnya berkilat dalam satu ayunan cepat yang langsung membelah tubuh makhluk itu sebelum sempat menyentuhnya. Tubuh Galverth itu jatuh keras ke tanah, namun dua makhluk lain langsung menyusul dari belakang, cakar mereka mengarah ke wajah Orion.
Ia memutar tubuhnya setengah langkah, menangkis salah satu serangan dengan pedangnya, sebelum menendang Galverth lain menjauh. “Pergi dari kota ini!” teriaknya, sambil kembali menebas. Tebasan itu mengenai bahu makhluk tersebut, membuatnya terhuyung sebelum Orion menusukkan pedangnya ke dadanya.
Tubuh Galverth itu menegang sesaat sebelum akhirnya jatuh tak bergerak.
Namun Orion segera menyadari sesuatu yang membuat dadanya terasa semakin berat. Setiap Galverth yang berhasil ia tebas seolah langsung digantikan oleh yang lain. Dari ujung jalan utama, makhluk-makhluk serupa mulai bermunculan lagi, jumlahnya semakin banyak. Api dari rumah-rumah yang terbakar menerangi jalan itu, membuat mata merah para iblis terlihat seperti puluhan bara yang bergerak dalam kegelapan.
Seorang pria tua tiba-tiba berlari melewati Orion sambil menggandeng tangan seorang anak kecil. Wajah mereka pucat, napas mereka terengah-engah karena berlari tanpa henti di tengah kepanikan kota.
“Cepat! Ke gerbang selatan!” teriak pria itu kepada beberapa warga lain yang masih mencoba melarikan diri.
Namun sebelum mereka sempat pergi jauh, seekor Galverth melompat dari atap rumah yang hampir runtuh dan mengarah langsung ke arah mereka. Anak kecil itu menjerit ketakutan.
Orion bereaksi lebih dulu. Ia melangkah cepat dan menebas makhluk itu di udara sebelum sempat mencapai mereka. Tubuh Galverth itu jatuh keras ke tanah, berguling beberapa kali sebelum akhirnya berhenti bergerak.
Pria tua itu menatap Orion dengan mata gemetar. “Te-terima kasih…!”
“Jangan berhenti. Pergi dari sini sekarang,” jawab Orion singkat, sambil tetap mengawasi sekeliling.
Pria itu mengangguk cepat lalu menarik anak kecil itu untuk berlari menjauh melewati jalan yang dipenuhi reruntuhan.