Api terus menyala di seluruh penjuru Valerion.
Angin malam membawa bau asap dan darah yang menyengat. Jalan-jalan batu yang biasanya dipenuhi pedagang kini dipenuhi puing bangunan yang runtuh, sementara dari kejauhan terdengar suara logam beradu, diselingi jeritan yang menimbulkan ketakutan.
Orion berdiri di tengah jalan yang dipenuhi bayangan makhluk iblis. Sepuluh Galverth mengelilinginya perlahan, cakar mereka menyeret tanah dan meninggalkan goresan panjang di batu jalanan. Mata merah mereka memantulkan cahaya api yang berkobar di sekeliling kota, seperti kawanan serigala yang menemukan mangsa yang masih hidup.
Orion menggenggam pedangnya lebih erat. Telapak tangannya terasa licin oleh keringat dan darah, namun ia tetap mengangkat pedang itu di depan tubuhnya.
“Kalau kalian mau lewat,” katanya pelan, sambil menatap mereka satu per satu, “kalian harus melewatiku dulu.”
Galverth tidak menjawab. Makhluk-makhluk itu hanya mengeluarkan geraman kasar sebelum akhirnya menyerang bersamaan.
Yang pertama melompat dari depan. Orion menangkis serangan cakar yang mengarah ke wajahnya, lalu memutar pedangnya dengan cepat dan menebas leher makhluk itu. Tubuh Galverth itu jatuh sebelum sempat menyentuh tanah, namun dua yang lain sudah menyerang dari sisi kiri dan kanan.
Orion mundur satu langkah untuk menghindari salah satu cakar yang hampir merobek bahunya. Ia menendang makhluk di depannya sebelum menusukkan pedangnya lurus ke dada Galverth lain yang mencoba menyerangnya dari belakang. Pertarungan berlangsung cepat dan kacau, dengan cakar, geraman, dan suara logam yang terus beradu di antara kobaran api kota.
Beberapa saat kemudian, tubuh-tubuh Galverth kembali tergeletak di tanah.
Orion terengah-engah sambil mencoba mengatur napasnya. Dadanya terasa panas, dan lengannya mulai terasa berat akibat pertarungan yang tak henti-hentinya sejak awal malam.
Namun sebelum ia sempat benar-benar beristirahat, suara jeritan terdengar dari ujung jalan.
“Tolooong!”
Orion segera mengangkat kepalanya. Di ujung jalan yang dipenuhi puing itu, seorang wanita muda terlihat berlari sambil membawa seorang anak kecil di tangannya. Wajahnya pucat, langkahnya goyah karena kelelahan, sementara tiga Galverth mengejar dari belakang.
Orion langsung berlari, sepatu besinya menghantam jalan batu saat ia melewati reruntuhan rumah yang terbakar. Salah satu Galverth hampir berhasil meraih wanita itu ketika Orion melompat dan menebas makhluk tersebut dari samping, membelah tubuhnya dengan satu ayunan kuat.
Dua Galverth lain berhenti sejenak, mata merah mereka beralih ke Orion. Wanita itu terjatuh ke tanah sambil memeluk anaknya erat-erat, dan Orion berdiri di depan mereka.
“Bangun,” katanya cepat, tanpa menoleh. “Lari ke arah gerbang selatan. Jangan berhenti.”
Wanita itu mengangguk dengan napas terengah-engah. “Terima kasih…!”
Namun sebelum mereka sempat pergi jauh, dua Galverth yang tersisa sudah kembali menyerang. Orion menangkis cakar pertama dengan pedangnya, percikan api kecil muncul saat logam pedang bertabrakan dengan kuku keras makhluk itu. Ia memutar tubuhnya dan menebas makhluk kedua yang menerkam dari belakang.
Beberapa detik kemudian, kedua Galverth itu sudah tergeletak di tanah.
Wanita itu segera membawa anaknya berlari menjauh, sementara Orion memperhatikan mereka sampai bayangan mereka menghilang di antara kobaran api.
Ia menarik napas panjang, namun ketenangan itu tidak bertahan lama. Dari berbagai arah, suara pertempuran terus terdengar semakin dekat. Orion berjalan perlahan menuju persimpangan jalan utama, lalu melihat lebih jauh ke dalam kota.