Prince Beyond The Time

YanDev
Chapter #3

Peaceful Memories

Langit siang di atas Valerion begitu cerah.

Dari atas tembok kota, bendera kerajaan berkibar pelan tertiup angin musim semi. Jalan-jalan batu dipenuhi pedagang dan warga yang berjalan santai, sementara suara musik dari para pengamen jalanan sesekali terdengar di antara percakapan ramai.

Hari itu kota terasa lebih hidup dari biasanya.

Orion berdiri di balkon istana sambil memandang ke arah gerbang utama kota. Dari kejauhan, suara terompet kerajaan mulai terdengar—tanda penyambutan tamu penting.

Beberapa detik kemudian, gerbang Valerion terbuka perlahan dan menunjukkan banyak pasukan dari benteng lain. Dua orang jendral perang barat dan timur datang bersamaan dengan pasukanya. Lalu disusul dengan pasukan selatan dan jendralnya yaitu Jendral Seraphel yang sangat tampan, terlihat banyak warga wanita yang bersorak dan ditanggapi oleh lambaian tangan olehnya.

Kemudian barisan prajurit berkuda hitam memasuki kota dengan formasi rapi. Armor mereka berbeda dari ksatria kerajaan Valerion—lebih tebal, lebih kasar, dan berwarna biru tua dengan mantel bulu yang melindungi mereka dari dinginnya wilayah utara.

Di tengah barisan itu, seorang pria tinggi menunggang kuda hitam besar. Mantel bulu abu-abu gelapnya berkibar pelan, pedang panjang tergantung di pinggangnya, wajahnya tegas dengan garis rahang kuat dan berambut coklat panjang sebahu.

Morvion, Penjaga Benteng Utara, adik dari Raja Tharion, sekaligus salah satu jenderal paling disegani di seluruh kerajaan.

Orion tersenyum kecil saat melihat iring-iringan itu masuk ke kota. “Paman akhirnya pulang juga,” gumamnya.

Di bawah, warga kota berhenti dari aktivitas mereka untuk melihat kedatangan pasukan utara. Beberapa anak kecil bahkan berlari mengikuti kuda-kuda besar itu dengan mata penuh kekaguman.

Morvion jarang kembali ke Valerion. Tugasnya menjaga Benteng Utara membuatnya menghabiskan sebagian besar waktunya di wilayah yang keras dan bersalju, sehingga setiap kali ia kembali, kedatangannya selalu terasa seperti sebuah peristiwa besar.

Di tangga utama istana, Raja Tharion sudah menunggu.

Ketika Morvion turun dari kudanya dan berjalan mendekat, para penjaga membuka jalan dengan hormat. Ia berhenti beberapa langkah dari tangga istana lalu menundukkan kepala.

“Kakakku.”

“Morvion.”

Alih-alih bersikap formal, Tharion langsung menepuk bahu adiknya dengan keras. “Aku hampir lupa wajahmu.”

Morvion mengangkat alis sedikit. “Benteng Utara tidak bisa dijaga dari kursi singgasana.”

Tharion tertawa. “Dan Valerion tidak bisa bertahan kalau semua orang sepertimu—terlalu serius sepanjang waktu.”

Beberapa prajurit di sekitar mereka ikut tersenyum kecil.

“Kau terlihat lebih kurus,” lanjut Tharion.

“Itu karena tentara utara bekerja, bukan hanya makan di pesta istana.”

Raja langsung tertawa keras. “Lihat? Masih sama seperti dulu. Selalu kaku.”

Ia kemudian menunjuk ke arah pintu istana. “Masuklah. Kota ini hampir lupa bagaimana rasanya memiliki jenderal utara di dalam temboknya.”

Morvion mengangguk sebelum berjalan masuk bersama kakaknya.

Lihat selengkapnya