Prita

Sugiadi Azhar
Chapter #4

Bab 3 Kursi Sekarat

Jum'at, 20 Februari 2026, 18:28

Suara dzikir mengalun dari toa mushola di ujung gang, terdengar seperti peluit peringatan yang memekakkan telinga. Bagiku, itu bukan pertanda waktu buka puasa mendekat, melainkan aba-aba dari sebuah perlombaan di mana hanya aku yang menyadarinya. Aku sudah mengubah jalan cepat menjadi sprint yang menyiksa paru-paru. Tubuhku terasa panas, dibakar oleh sisa terik siang dan kecemasan yang mendidih.

Lengan bajuku masih berbau tengik minyak goreng—sisa perjuangan sejak jam satu siang tadi membantu Mbak Nayla di perempatan jalan. Hari ini gorengan laku keras; aku baru bisa bernapas lega setelah nampan terakhir tandas pukul enam sore, tepat sebelum lapak itu berganti tuan menjadi warung kopi. Aku telah kehilangan waktu berhargaku demi beberapa lembar rupiah, dan kini aku harus membayar keterlambatan itu dengan rasa lelah yang mencekik. Aku memacu kecepatanku ke tingkat maksimal, mengabaikan rasa perih di betis yang mulai menegang hebat.

Di kanan-kiriku, rumah-rumah batako berdesakan seolah sedang saling sikut untuk mempertahankan diri dari kepungan asap dapur yang menari liar. Gang ini terasa semakin menyempit, menghimpitku dalam labirin yang menyesakkan. Aku tak boleh terlambat. Aku tak boleh kalah! Garis finis itu menjanjikan satu-satunya hadiah yang kuinginkan: rasa tenang saat melihat adik tiriku baik-baik saja.

Setibanya di depan pintu, aku langsung merangsek masuk tanpa mengetuk. Jantungku bergedubal hebat, seolah ingin menjebol tulang rusuk. Napasku keluar-masuk dengan suara yang serak, cepat, dan dangkal—memburu oksigen yang seolah menipis di udara yang pengap ini. Aku terpaku satu langkah di dalam kegelapan ruang tamu, berdiri dengan kaki yang menegang siap untuk segala kemungkinan. Tanganku masih mencengkeram gagang pintu, mencoba meredam bunyi paru-paruku yang meronta agar kehadiranku tidak langsung terdeteksi. Keringat dingin mulai merayapi tengkukku.

Rumah ini nyaris gelap gulita. Hanya ada satu sumber cahaya yang membelah kegelapan: lampu kamar mandi yang menyala pucat. Cahayanya yang kekuningan memantul di atas tumpukan piring dan gelas di rak dapur, menciptakan kilatan-kilatan tajam. Di tengah keheningan yang ganjil ini, suara percikan air yang menghantam lantai semen kamar mandi terdengar begitu nyaring. Terlalu nyaring.

Tiba-tiba, firasat buruk menusuk sisi kananku. Ada eksistensi lain di sana, tersembunyi di balik bayangan yang tak terjangkau cahaya dapur. Aku bisa merasakan sisa napas yang berat dan detak jantung yang dingin menyatu dengan dinding batako tanpa plester itu. Sisi kananku terasa panas, seolah ada sepasang mata yang sedang menguliti keberadaanku dalam diam. Kusambar saklar di sekat antar kamar. Jemariku yang gemetar meraba dinding kasar sebelum akhirnya menemukan tuas plastik itu.

Klek.

Lihat selengkapnya