Prita

Sugiadi Azhar
Chapter #2

Bab 1 Menjadi Iblis

Jum'at, 20 Februari 2026, 04:13

Aku mengendus iblis dari diri Kak Rama subuh itu.

Kesadaranku terseret paksa dari lubang tidur oleh suara ngorok yang berat dan patah-patah—bunyi parau mesin tua yang dipaksa bekerja. Kepalaku terasa seberat batu, dan mataku perih seolah diganjal pasir. Namun, di tengah sisa kantuk, hidungku lebih dulu menangkap kontradiksi aroma yang ganjil. Ada kehangatan bawang merah terkaramelisasi dari arah dapur, menyelinap melalui celah tirai kusam kamar kami. Namun di saat yang sama, aroma itu bertabrakan dengan bau minyak tanah, sisa kopi dingin, serta endapan nikotin yang membusuk di udara pengap.

Pemadaman listrik memaksa lampu teplok berdiri di antara dua kasur kami; apinya gemetar hebat, menari seperti nyawa yang sekarat melawan bayangan hitam di sudut ruangan. Aku mengerjap, mencoba mengusir kabut di otak, namun detik berikutnya, sisa kantukku menguap tanpa bekas. Jantungku mencelos melihat apa yang tersaji di bawah pendar lampu yang ringkih itu.

Di kasur sebelah, Kak Rama tertidur karena kelelahan ekstrem—lelah yang tidak suci. Celana jins pendeknya yang compang-camping melorot hingga ke bawah pinggul, memamerkan pemandangan yang seharusnya tersembunyi di balik lapisan rasa malu. Di tangannya, sebuah ponsel masih menyala redup, menampilkan adegan dewasa yang bergerak tanpa suara. Kabel headset putih melilit lehernya yang dekil, menjalar hingga ke lubang telinga seperti akar parasit. Keriuhan maksiat itu terperangkap langsung di dalam kepalanya, menghisap sisa-sisa moralitas yang mungkin masih tertinggal.

Aku mematung dengan rasa mual yang merayap ke kerongkongan. Kak Rama adalah kuli bangunan yang seharusnya bangun pagi untuk memeras keringat di proyek, namun ia memilih menghabiskan malam memeras kewarasannya sendiri. Ia menderita insomnia yang dipaksakan, menenggak bergelas kopi hitam pekat hanya untuk menjaga matanya tetap terbuka demi memelototi layar terkutuk itu. Wajahnya tampak dua puluh tahun lebih tua; kantung matanya menghitam, kulitnya layu, dan rahangnya yang tajam kini tampak seperti pisau karatan yang haus darah.

Tiba-tiba, sebuah suara memecah sunyi.

"Kak... bangun. Sudah jam empat lewat. Ayo sahur," panggil Prita lirih dari balik tirai.

Suaranya halus, namun efeknya seperti ledakan di telingaku. Hanya selembar kain kusam yang memisahkan mata sucinya dari pemandangan busuk di atas kasur. Prita tidak mengetuk, ia hanya berdiri mematung di balik kain itu, menanti respons.

Lihat selengkapnya