Prita

Sugiadi Azhar
Chapter #3

Bab 2 Si Pincang

Jum'at, 20 Februari 2026, 10:35

Sejak subuh itu, aku merasa harus menjadi perisai bagi setiap inci tubuh Prita yang mulai menonjol. Pola tatapan Kak Rama selalu hinggap di tiga titik: leher jenjang, belahan dagu, serta dada Prita, dibarengi suara lidah yang membasahi bibir bawahnya yang pecah-pecah. Bunyi cecap yang basah itu terus terngiang di kepalaku, lebih horor daripada suara langkah kaki di tengah malam.

Bahkan kini, di tengah riuh rendah suara kelas, aku masih bisa mendengar suara parau Kak Rama saat memuji nasi goreng buatan Prita. Kata 'matang' yang ia ucapkan bukan ditujukan pada bulir nasi yang gurih, melainkan pada tubuh Prita yang mulai merekah. Prita terlalu polos untuk menyadari ancaman itu. Bagaimana cara memperingatkannya? Seandainya aku perempuan, mungkin membicarakan perubahan anatomi tubuh tidak akan sesulit ini. Perubahan fisiknya yang terjadi tanpa permisi telah mengubah setiap sudut dinding batako kami menjadi perangkap.

Aku benci pertumbuhan itu. Betapa dulu ia hanyalah gadis dekil yang hemat bicara, aman dalam tubuh mungil yang dianggap beban oleh Kak Rama. Namun waktu dengan kejam mengubahnya menjadi sosok yang mampu membangkitkan gairah yang salah.

Kini, waktu adalah musuh utamaku. Aku mendongak, menatap jam dinding di atas jadwal piket kelas yang sudah berkerak debu. Detiknya bergegas panik, tapi menitnya merayap seperti siput yang sekarat di atas aspal panas. Suara Pak Danu di depan kelas kini tak lebih dari dengungan serangga yang mengaburkan fokusku. Pukul 10.35. Prita pasti sudah menapakkan kakinya di gang.

Pikiranku bercabang menjadi dua kengerian yang sama besarnya. Di satu sisi, aku membayangkan pria-pria di sepanjang gang yang menatapnya ganjil, melontarkan siulan, atau yang lebih menakutkan—nekat menyelinap masuk karena tahu Prita sendirian di rumah. Di sisi lain, bayangan Kak Rama lebih menyiksa. Ini Jum'at, hari liburnya. Tetapi hari ini dia terpaksa harus bekerja di bawah terik karena desakan proyek yang harus rampung minggu depan. Tapi bagaimana jika dia bolos? Bagaimana jika rasa lapar yang tadi subuh kulihat di matanya membuatnya nekat pulang lebih awal?

Tak ada tempat yang benar-benar aman untuk Prita. Aku harus memastikan pintu itu terkunci. Sekarang.

Aku mengacungkan tangan, memohon izin ke toilet dengan ekspresi yang kupastikan tampak sangat menderita. Begitu bangkit, aku langsung memainkan peran "si pincang". Aku menyeret kaki kiriku dengan badan condong ke kanan. Setiap kali kaki kiriku menapak lantai ubin yang dingin, aku harus berjinjit, memastikan tumitku tidak menekan benda keras yang mengganjal di dalam sepatu.

Lihat selengkapnya