warn : mengandung kata kata kasar. mohon untuk bijak dalam membaca.
selasa, 17 februari 2026
Di balkon kamar, Raven menghembuskan nafas panjang bersamaan dengan asap Vape yang membubung. Pikirannya berkecamuk, mendesak egonya untuk mencari ketenangan di luar sana.
Entahlah,
Antara menuruti dorongan hati atau tetap bergeming di tengah sepi.
Tepat saat keraguan memuncak, dering ponsel yang nyaring memecah keheningan, mengagetkannya. Zoya is calling...
Raven menerima panggilan dan mendengarkan seksama apa yang akan di sampaikan cewe itu.
“Raven, sayangku… kenapa lama banget sih angkat teleponnya?” nada cewek itu manja, namun terdengar muak bagi Raven.
Raven berdesis pelan, rahangnya mengeras. “Bitch.” Raven menjatuhkan Vape sembarang.
“Hah? Lagi di mana sih? Kok kasar banget ngomongnya…”
“To the point kalau ngomong,” ujar Raven dingin, jelas tidak ingin berbasa-basi.
“Ih, galak banget… gue cium juga nanti mau gak?”
“Gue mat—”
“Bentar dulu!!” potong cewek itu cepat. “Gue mau ngajak lo ke club sekarang. Ada Glen, Raya, Afgan, sama kembaran gue, Zeya. Cocok banget kan buat berpasangan?”
Raven terdiam. Sementara otaknya mencerna setiap kata yang baru saja ia dengar.
“Kok diam? Mau, nggak? Afgan sama Glen itu udah nungguin loh..”
“Share lock,” jawab Raven singkat, suaranya datar tanpa emosi.
“Okeee, sampai jumpa, bebhh. I lo—”
Tut!
Raven memutuskan sambungan telepon secara sepihak. Ia tidak tertarik mendengar kelanjutan ucapan cewek itu. Bahkan satu detik lebih lama pun.
Raven mengganti pakaiannya dengan setelan yang memberinya kesan nakal. Ia meraih kunci motornya, lalu mengunci pintu kamar tanpa ragu.
Langkahnya mantap saat menuruni anak tangga. Raven mengabaikan CCTV yang menyoroti langkahnya.
Dengan satu dorongan kasar, ia membuka gerbang dan melaju pergi, meninggalkan rumah tanpa menoleh ke belakang. Ia melajukan motor sport hitam nya.
Jalanan dipenuhi kendaraan, lampu-lampu kota berpendar, dan suara mesin bersahutan menciptakan suasana malam yang hidup.
Setibanya di club, Raven menghentikan motornya dan segera menghubungi temannya, menanyakan keberadaan mereka.
Tak butuh waktu lama, Glen dan Afgan muncul dari pintu masuk. Keduanya menghampiri Raven dengan santai, lalu mengajaknya masuk.
Suasana club dipenuhi dentuman musik keras, lampu yang berpendar, dan aroma alkohol yang pekat di udara.
“Ven… mau minum apa?” tanya Afgan, menoleh ke arahnya.
Raven mengangkat bahu acuh. “Spicy Margarita.”
Glen menghela napas panjang. “ seperti biasa,"
Bartender segera meracik minuman itu di hadapan mereka. Glen mengeluarkan kartu dan menyodorkannya untuk pembayaran. Tak lama kemudian, gelas berisi cairan berwarna menggoda itu siap di tangan Raven.
Mereka bertiga berjalan menuju sofa tempat Zoya, Zeya, dan Raya berada.
Glen dan Zeya memang sudah lama berpacaran. Tanpa ragu, Glen langsung mencium pipi Zeya begitu tiba di dekatnya, seolah tak peduli dengan orang-orang di sekitar mereka.
Zoya, di sisi lain, segera mendekati Raven dengan senyum manja.
Namun Raven merespons dingin, hingga nyali Zoya menciut seketika.
Malam ini, Raven aman dari gangguan cewe murahan.
Raven kembali meneguk minumannya hingga tandas. Dari sudut matanya, ia melihat seseorang mendekat, lalu tiba-tiba menarik kaosnya dengan kasar hingga Raven berdiri.
Raven menggeleng disaat pandangan nya kabur, berusaha menyadarkan diri.
Terlambat.
BUGH!
Tubuhnya terdorong ke belakang. Dengan kesadaran yang tersisa, Raven membalas pukulan itu.
Perkelahian pun tak terhindarkan. Suasana Club mendadak ricuh. Pak Gomgom, sang pemilik klub, segera datang dan berusaha memisahkan mereka. Namun alih-alih menenangkan, ia justru memarahi keduanya.
“Molo marbadau, ruar ma hamu sian on!!” ( kalo mau ribut, keluar saja dari sini ! )
Raven tak mengerti, tetapi jelas pria tua itu sedang sangat marah. Mereka pun terpaksa menghentikan keributan.
Pria yang menyerangnya mengenakan masker, Raven tak mengenali nya.
Pak Gomgom mendorong tubuh cowo bermasker hitam dengan kasar, menyuruhnya keluar. “Luar ho, bodat!” usirnya.
Zoya tampak cemas melihat pelipis Raven yang mulai lebam. Glen, Afgan, Zeya, dan Raya ikut mendekat.
Zoya hendak menyentuh sudut bibir Raven, tetapi tangannya ditepis kasar.