PRIVILEGE

Christin Meirdhika
Chapter #1

CHAPTER I : RUMAH YANG MULAI SEPI

CHAPTER I : RUMAH YANG MULAI SEPI

“Setiap rumah ada penghuninya. Namun, penghuni itu perlahan akan berkurang, entah pergi mengadu nasib, atau pergi yang tak akan lagi kembali.”     

     *****

Kata pepatah lama, semua yang terjadi ada masanya. Mungkin sepuluh tahun lalu kediaman keluarga pak Arthur dan Ibu Juriah adalah kediaman yang paling ramai dengan suara gelak tawa anak-anak. Namun, tidak dengan pemandangan malam ini, senyap seolah tak berpenghuni.

  Tak ada lagi gelek tawa, ataupun suara perkelahian yang meramaikan suasana rumah, kini yang tersisa hanya kesunyian yang diselimuti oleh kerinduan sesosok wanita berusia senja kepada para buah hatinya yang perlahan mulai mengadu nasib di dunia fana ini.

 “Bu, ngapain di teras malam-malam begini?” tegur seornag gadis muda yang baru saja memarkirkan motornya di pekarangan rumah.

 “Ibu jenuh di dalam terus, Nak. Makanya, ibu duduk di teras rumah sambil melihat album foto lama ini. Sini, kamu temani ibu lihat foto-foto lama kakak-kakak kamu,” ajak Bu Juriah sambil menatap wajah putri bungsunya dengan penuh senyuman.

 Bukannya menuruti ajakan ibunya, Thesia justru memejamkan matanya sejenak, llau berujar “Bu, adek ke dalam dulu, yah. Soalnya bahu adek pegal, mau taruh leptop dan tas kuliah. Tapi nanti adek balik, temani ibu.”

 Tanpa menunggu kalimat balasan, Thesia mulai melangkahkan kakinya menjejakkan kaki di dalam kediaman yang kini terasa begitu sepi. Di sisi lain, Bu Juriah masih menikmati setiap moment manis ketika jemarinya yang penuh keriput mulai membuka lembar demi lembar album foto yang sudah usang. Tatapan penuh kerinduan pun terpancar dari sorot matanya, menatap setiap wajah yang kini entah bagaimana keadaannya.

"Arthur, sekarang rumah ini sudah tak seramai dulu. Semuanya mulai sibuk, bahkan kau pun memiih pergi untuk selamanya.”

 “Ibu, ini teh jahenya, diminum dulu biar tubuh ibu nggak terlalu dingin,” ucap Thesia sembari menaruh secangkir Teh di meja dekat Ibu Juriah.

 “Terima kasih, Nak. Lalu, bagaimana tadi kuliahmu? Lancar?”

 “Lancar dong, Bu. Bahkan, untuk mid test semester ini, dua mata kuliahku mendapatkan nilai tertinggi dan sempurna. Ini ibu lihat,” ucap Thesia dengan penuh antusias, sembari menunjukkan hasil ujiannya kepada sang ibu melalui layar handphonenya.

 “Gimana Bu, aku keren ‘kan?”

 “Iya kamu keren banget, mirip sama ketiga kakakmu yang pintar dan juga berprestasi. Ibu bangga punya anak-anak seperti kalian,” ucap Bu Juriah, dengan tangan yang membelai lembut rambut sang anak.

 Mendengar jawaban sang ibu, Thesia pun membalasnya dengan senyuman. Benar yang ibunya bilang, ia dan ketiga kakaknya sangatlah mirip bahkan dari segi akademik, mereka sama pintarnya.

 "Tapi, aku tak ingin seperti mereka yang pintar, dan juga sibuk, lalu perlahan meninggalkan ibu seorang diri.”

   “Nak!”

   “Thesia, anak ibu, kok melamun?” Tanya Bu Juriah, sembari menepuk pundak anak gadisnya.

   Mendapatkan sentuhan pada pundaknya, seketika Thesia pun tersadar dari alam lamunannya, dengan senyuman yang menampilkan giginya yang rapi, ia pun berujar, “ Iya Bu, ada apa?”

  “Ayo masuk, sudah malam. Anginnya sudah tidak baik buat kesehatan,” ajak bu Juriah, diiringi dengan senyuman hangat yang selalu terpatri di wajahnya yang tak lagi muda.

Lihat selengkapnya