PRIVILEGE

Christin Meirdhika
Chapter #2

CHAPTER 2 : RUMAH YANG MULAI TAK NYAMAN

CHAPTER 2 : RUMAH YANG MULAI TAK NYAMAN

“Meski Rumah mulai membuat kau tak nyaman, tapi rumah tetaplah rumah. Yang berisikan orang-orang yang akan selalu menunggu dan menerima kepulanganmu.”

*****

      Part Sebelumnya

“Iya sayang, kamu tenang …."

“Thesiaaaa! Bisa tenang nggak sih kau ini! Masih pagi loh, sudah menjerit saja! Berisik!”

*****


Mendengar teriakan itu, sontak Thesia dan Bu Juriah pun menoleh kearah sumber suara. Benar saja, tak lama kemudian muncul sesosok wanita muda dari arah tangga, lengkap dengan piayama, serta mata yang setengah terpejam.

“Kak Chisca?” ucap Thesia dengan nada penuh tanya, serta alis yang bertaut mempertanyakan kapan wanita ini pulang, dan bagaimana ia bisa tiba dikamarnya. Sedangkan ia semalaman mengerjakan tugas diruang tamu, dan tidak ada kehadiran kakaknya.

“Kakak!” ucap Bu Juriah dengan sorot mata yang penuh akan kerinduan.

“Kak, kapan kakak datang? Kok aku nggak tahu?” tanya Thesia melontarkan pertanyaan yang sejak tadi ingin ia tanyakan.

“Bagaimana kamu mau tahu kalau aku dating, kamu saja ketiduran dengan laptop menyala begitu."

“Hah? Maksudnya kakak datang setelah aku tidur?”

“Iya adekku! Kakakmu ini semalam tiba jam dua dini hari, terus ….”

Belum sempat menyelesaikan penjelasannya, Thesia dengan semangat, serta telunjuk yang tiba-tiba saja mengarah Chisca pun berseru, “Aha! Berarti Kakak Chisca tahu dong siapa yang mencuri laptopku!”

“Adek! Pelan-pelan toh, kakaknya baru juga bangun, sudah disuruh mikir!” tegur Bu Juriah, sambil menggelengkan kepala melihat desakan yang terus dilancarkan dari putri bungsunya.

“Laptop kamu hilang?” tanya Chisca dengan nada yang lembut, serta mata yang menatap lekat adik bungsunya yang tetap kecil dimatanya.

“Iya Kak, laptop aku hilang. Jadi semalam aku kerjakan tugas, lalu paginya aku bangun sudah nggak ada. Aku dan ibu sudah cari, tapi tetap saja nggak ketemu. Kak please  kalau kakak tahu bilang dong!” mohon Thesia, dengan kedua tangan yang terus menarik-narik pelan piayama Chisca, selayaknya seekor anak kucing yang manja pada tuannya.

Melihat adiknya yang mulai bertingkah manja, sontak saja sebuah senyuman tercipta di wajah Chisca, sudah lama, atau tepatnya hampir sebulan lalu ia melihat senyuman adiknya secara langsung. Dan hari ini, ia pun melihatnya lagi.

“Ihsss! Kakak jawab pertanyaanku, kak. Bukan senyum,” rajuk Thesia, dengan bibir yang mulai manyun, seperti seekor anak itik.

“Sudah cek di kamar kakak belum? Kalau belum, coba kamu cek dulu siapa tahu ada di sana,” ujar Chisca, dengan tangan yang membelai rambut tebal milik adik bungsunya.

Mendengar perkataan kakaknya, sontak Thesia pun berdiri, dan berlari menaiki setiap anak tangga dengan penuh semangat. Bu Juriah yang melihat tingkah ceroboh, dan merasa panik dengan keselamatan putrinya pun berteriak, “Adek pelan-pelan jalannya, nanti jatuh!”

Tak lama kemudian, Thesia pun berteriak dengan cukup lantang, “KAK CHISCA!!!!”

Mendengar teriakan itu, sontak Bu Juriah pun bangkit berdiri, dan ingin menghampiri putrinya untuk memastikan apa yang sedang terjadi. Namun, baru juga berdiri, Chisca pun sudah menarik baju ibunya untuk duduk kembali sambil berbisik pelan, “Nggak papa Bu, jangan khawatir, biarin saja nanti dia turun. Toh dia itu baik-baik saja.”

“Kakak!”

“Percaya aku, Bu. Dia nggak papa, paling kalau dia turun aku yang kena pukul.”

Merasa apa yang dikatakan anak sulungnya benar, Bu Juriah pun memilih untuk duduk kembali dengan rasa penasaran dengan apa yang membuat putri bungsunya ini menjerit sekuat itu.

Benar saja, tak lama kemudian Thesia pun turun dengan langkah setengah berlari dari lantai dua. Dengan penuh luapan emosi, ia pun menaruh leptopnya di meja terlebih dahulu, lalu berjalan ke arah kakaknya yang kini sudah berdiri di belakang sofa.

“KAK CHISCA JANGAN KABUR KAMU! SINI, AKU MAU PUKUL KAMU!” teriak Thesia dengan penuh kekesalan, serta jari yang ikut menunjuk sang kakak.

“Yehhh! Enak saja! Kagak mau gue dipukul. Lagian, bukannya terima kasih, malah mau mukul. Wleeeh!” ledek Chisca sembari menjulurkan lidahnya,

“Adek, sini duduk sama ibu. Ibu mau tanya,” sela Bu Juriah, sembari menepuk bantalan sofa yang berada di dekatnya.

“Itu dek, duduk sana. Emosian mulu kau ini!” tambah Chisca lengkap dengan lidah yang masih menjulur, meledek adiknya.

Melihat kakaknya yang masih betah mengejeknya, Thesia pun hanya bisa membalas dengan tatapan tajam, sambil sesekali menunjukkan kepalan tangannya kepada sang kakak yang sekilas sama tinggi dengannya.

“Coba adek cerita sama ibu, kenapa adik kesal sama kakak!”

Lihat selengkapnya