SEASON 1: THE FIRST LOGIN - ARC 1: PROJECT ELYSIUM
Jakarta di tahun 2027 tidak banyak berubah dari beberapa tahun lalu, kecuali satu hal: suasananya terasa jauh lebih melelahkan. Pagi ini, seperti biasa, kawasan Sudirman dikepung oleh lautan kendaraan yang merayap malas. Suara klakson bersahut-sahutan, beradu dengan gemuruh mesin TransJakarta dan bisikan-bisikan angin yang membawa hawa panas. Di trotoar yang lebar, ratusan orang berjalan terburu-buru dengan kepala tertunduk. Hampir tidak ada interaksi. Mata mereka terpaku pada layar tipis di genggaman, tenggelam dalam dunia digital masing-masing yang riuh, sementara dunia nyata di sekeliling mereka perlahan kehilangan warnanya.
Di dalam sebuah mobil sedan hitam yang terjebak di tengah kemacetan total, Dr. Adrian Pratama menghela napas panjang. Pria berusia awal tiga puluhan itu melirik jam tangan digitalnya. Pukul 07.45 WIB. Lima belas menit lagi presentasi krusialnya di Kementerian Kesehatan akan dimulai.
Adrian memijat pelipisnya yang mulai berdenyut. Ia mengalihkan pandangan ke luar jendela, menatap seorang pemuda berjaket ojek online yang sedang bersandar di motornya sambil melamun kosong. Tatapan pemuda itu kosong, seolah jiwanya sudah lama pergi meninggalkan raganya. Pemandangan seperti itu bukan lagi hal aneh. Setahun terakhir, media massa tak henti-hentinya memberitakan lonjakan dramatis kasus gangguan kesehatan mental. Wabah depresi, isolasi sosial, hingga kasus bunuh diri di kalangan remaja naik hingga dua kali lipat. Manusia di era ini semakin terhubung secara teknologi, namun semakin terputus secara emosional.
"Pak Adrian, jalanan di depan dikabarkan ada demonstrasi kecil, makanya macetnya mengunci," ujar Rian, asistennya yang duduk di kursi kemudi, memecah keheningan. "Apa kita perlu jalan kaki saja? Jaraknya tinggal sekitar tiga ratus meter lagi."
Adrian memeriksa tabletnya sekali lagi, memastikan seluruh data Project Elysium sudah sinkron sempurna. "Ya, kita jalan kaki saja. Bawa proyektor portabelnya, Rian. Kita tidak boleh terlambat semenit pun."
Mereka berdua segera turun dari mobil dan membelah trotoar Jakarta yang padat. Udara pagi yang pekat oleh polusi menyengat paru-paru, namun pikiran Adrian jauh lebih tersita oleh apa yang akan ia hadapi di dalam gedung kementerian nanti. Ini adalah pertaruhan terbesar dalam karier ilmiahnya.
Ruang rapat utama Kementerian Kesehatan terasa begitu dingin, bukan hanya karena pendingin ruangan yang dipasang maksimal, melainkan karena tatapan-tatapan skeptis dari belasan pejabat senior dan perwakilan pemerintah yang duduk mengelilingi meja oval besar.
Adrian berdiri di podium depan, merapikan letak mikrofonnya. Di layar besar di belakangnya, logo Project Elysium menyala biru terang, memantulkan cahaya ke ruang rapat yang sengaja digelapkan.
"Selamat pagi, Bapak dan Ibu sekalian," Adrian membuka presentasinya dengan suara tenang namun tegas. "Terima kasih atas waktu yang diberikan. Hari ini, saya tidak akan berbicara tentang obat-obatan kimia baru atau metode konseling konvensional yang selama ini kita gunakan. Saya berdiri di sini untuk menawarkan sebuah paradigma baru dalam dunia rehabilitasi psikologis."
Adrian menekan tombol di remot kontrolnya. Layar berganti menampilkan grafik statistik yang mengerikan mengenai tingkat depresi masyarakat urban.
"Kita semua tahu, fasilitas kesehatan kita saat ini sudah kewalahan menghadapi gelombang gangguan kecemasan dan depresi akut. Metode yang ada sekarang terlalu lambat dan sering kali membuat pasien merasa dihakimi. Melalui Project Elysium, kami memanfaatkan teknologi Brain Mapping, analisis emosi berbasis AI mutakhir, dan Virtual Reality imersif penuh untuk menciptakan sebuah ruang terapi yang radikal. Kami menyebutnya: Memory Online."