PROJECT ELYSIUM

Ahmad Barnash
Chapter #2

BAB 2: Para Sukarelawan

Suasana di dalam ruang tunggu Laboratorium Elysium terasa begitu canggung. Lima belas orang duduk tersebar di sofa-sofa empuk, namun jarak emosional di antara mereka terasa seperti ribuan kilometer. Tidak ada yang saling menyapa. Masing-masing sibuk dengan kecemasan mereka sendiri, menatap lantai atau meremas jemari mereka yang dingin.

Pak Darto, pria berusia 67 tahun yang membawa koper tua tadi, duduk di pojok ruangan. Ia terus mendekap kopernya erat-erat di pangkuan, seolah benda usang itu adalah satu-satunya jangkar yang menahannya agar tidak hanyut di ruangan yang terlalu modern ini. Sejak istrinya meninggal tiga tahun lalu dan anak tunggalnya pindah ke luar negeri serta jarang memberi kabar, rumahnya di pinggiran Jakarta terasa seperti kuburan yang luas. Kesepian telah menggerogoti kesehatannya perlahan-lahan. Baginya, mendaftar ke Project Elysium bukanlah tentang teknologi keren, melainkan sebuah pelarian dari keheningan rumahnya yang menyiksa.

Tidak jauh dari Pak Darto, duduk seorang wanita berusia sekitar 40 tahun bernama Bu Marni. Penampilannya sangat kontras dengan Pak Darto; ia mengenakan pakaian bermerek dan perhiasan yang cukup mencolok. Namun, jika diperhatikan lebih dekat, riasan wajahnya yang tebal tidak mampu menyembunyikan lingkaran hitam di bawah matanya. Bu Marni terus-menerus mengeluarkan cermin kecil dari tasnya, memeriksa wajahnya dari berbagai sudut dengan raut wajah cemas, lalu mendesah kecewa. Ibu rumah tangga ini sedang mengalami krisis eksistensial yang hebat setelah anak-anaknya beranjak dewasa dan suaminya sibuk dengan dunia bisnis, membuatnya merasa kehilangan fungsi dan arti hidup sebagai seorang wanita.

Di sudut lain, seorang pemuda berusia 19 tahun bernama Rafi duduk dengan jaket tudung yang ditarik rendah hingga menutupi sebagian wajahnya. Telinganya disumpal oleh earphone yang memutar musik dengan volume keras, meskipun ia tidak benar-benar mendengarkannya. Rafi adalah seorang mahasiswa tingkat pertama yang baru saja memutuskan berhenti kuliah setelah mengalami perundungan yang parah di kampusnya. Setiap kali ada orang yang berjalan melewatinya, bahu Rafi otomatis menegang dan matanya bergerak waspada. Baginya, manusia lain adalah ancaman.

Adrian mengamati dinamika tersebut dari balik kaca ruang kendali bersama dr. Maya, seorang psikolog klinis senior yang ditunjuk sebagai pengawas medis para peserta.

"Mereka semua membawa muatan trauma yang sangat berat, Adrian," ujar Maya sambil membaca berkas rekam medis digital di tabletnya. "Lihat Rafi. Tingkat kecemasannya berada di zona merah sejak dia menginjakkan kaki di gedung ini. Apakah kamu yakin Memory Online tidak akan justru memperburuk kondisi mereka jika kejutan mentalnya terlalu besar?"

"Justru karena itulah kita tidak menggunakan metode konvensional, Maya," jawab Adrian tanpa mengalihkan pandangan dari Rafi. "Di dunia nyata, Rafi merasa tidak berdaya karena lingkungan mendikte posisinya sebagai korban. Di dalam Memory Online, AURA akan memberikan dia identitas baru yang memiliki kekuatan fisik yang besar untuk mengimbangi kelemahannya. Kita mengubah medan pertempurannya agar dia memiliki kesempatan untuk melawan ketakutannya sendiri."

Maya menghela napas, menutup tabletnya. "Kuharap teorimu benar. Karena jika sistem ini gagal, mereka tidak hanya akan mengalami crash secara digital, tapi mental mereka bisa rusak permanen."

Lihat selengkapnya