PROJECT ELYSIUM

Ahmad Barnash
Chapter #4

BAB 4: Hari Login

Kegelapan total yang dirasakan para peserta perlahan-lahan tergantikan oleh pendaran cahaya putih yang lembut. Sensasi melayang yang aneh perlahan menghilang, digantikan oleh rasa berat yang familier dari sebuah tubuh yang memijak tanah padat.

Di tengah Alun-Alun Kota Aurora, sebuah formasi lingkaran sihir berwarna biru keemasan menyala di atas lantai batu marmer. Satu per satu, partikel-partikel cahaya berkumpul dan memadat, membentuk wujud manusia-manusia baru yang terbangun dari tidur panjang.

Rafi adalah orang pertama yang membuka matanya. Ia tersedak kecil, refleks menarik napas dalam-dalam. Udara yang masuk ke paru-parunya terasa begitu bersih, dingin, dan membawa aroma segar rumput basah—sesuatu yang sudah sangat langka di Jakarta tahun 2027. Namun, kejutan terbesar muncul saat ia melihat ke bawah, menatap kedua tangannya sendiri.

Kedua tangannya tidak lagi kurus dan gemetar seperti di dunia nyata. Tangan itu kini dilapisi oleh sarung tangan kulit tebal dan pelindung lengan dari besi yang kokoh. Rafi meraba dadanya; ia mengenakan baju zirah lempengan baja berkilau yang terasa kokoh namun anehnya sangat ringan untuk digerakkan. Di pinggangnya, tergantung sebuah pedang panjang bersarung perak yang beratnya pas. Ia mencoba melangkah, dan setiap gerakannya terasa penuh energi. Ia menatap bayangan dirinya di air mancur alun-alun: wujudnya kini adalah seorang Knight (Ksatria) muda berambut perak dengan postur tubuh tegap dan tinggi. Wajahnya tampak tampan namun menyiratkan ketegasan yang selama ini tidak pernah ia miliki di dunia nyata.

"Ini... ini tidak mungkin," bisik Rafi dengan suara bariton yang dalam, sangat berbeda dengan suara aslinya yang cempreng karena cemas. Ia mengepalkan tangannya, merasakan kekuatan fisik yang luar biasa mengalir di setiap ototnya.

"Astaga! Lihat ini! Aku... aku tidak punya kerutan lagi!" sebuah teriakan histeris memecah keheningan alun-alun.

Rafi menoleh cepat dan melihat seorang gadis muda berusia awal dua puluhan dengan rambut pirang bergelombang yang indah sedang menari-nari kegirangan di dekat air mancur. Gadis itu mengenakan gaun sutra mewah berwarna ungu dengan jubah sutra halus. Ia memegang sebuah cermin kecil bergagang emas, menatap wajahnya sendiri dengan mata yang berbinar-binar penuh sukacita.

Lihat selengkapnya