PROJECT ELYSIUM

Ahmad Barnash
Chapter #5

BAB 5: Login Pertama

Petualangan di dunia Memory Online resmi dimulai ketika lima belas peserta melangkah melewati gerbang alun-alun menuju jalanan Kota Aurora. Namun, berbeda dengan ekspektasi mereka yang mengira ini adalah game fantasi biasa tempat mereka akan langsung diberikan senjata dan misi untuk berburu monster ke luar kota, kenyataan di lapangan jauh berbeda.

Sistem Memory Online tidak menyediakan tanda panah penunjuk arah, tidak ada peta mini yang melayang di sudut pandang mata, dan tidak ada angka tingkat level yang muncul di atas kepala orang lain. Semuanya terasa begitu nyata, organik, dan membingungkan bagi mereka yang terbiasa dengan teknologi instan dunia modern.

"Tunggu, di mana tombol menunya?" Dimas, sang Merchant keren, berkali-kali mengetukkan jarinya ke udara kosong, berharap ada layar transparan yang muncul menampilkan status karakter atau isi tasnya. "Bagaimana cara aku melihat barang bawaanku? Di mana Inventory-nya?"

Seorang bapak-bapak NPC bertubuh gempal yang sedang menata karung gandum di depan tokonya menoleh ke arah Dimas dengan dahi berkerut. "Eh, anak muda, kalau kamu mau menyimpan barang ya beli lemari atau taruh di peti gudang! Kenapa kamu mengetuk-ngetuk angin dari tadi? Apa kamu sedang kerasukan roh jahat?" tanya bapak NPC itu dengan logat lokal yang kental.

Dimas tertegun, tangannya tergantung di udara. Peserta lain yang melihat kejadian itu tidak bisa menahan tawa mereka.

"Jadi di sini kita benar-benar harus hidup normal ya?" tanya Bu Marni sambil merapikan gaun ungu indahnya. "Wah, kalau begitu aku mau mencari salon kecantikan dulu! Aku harus memastikan rambut pirang baruku ini tetap terawat dengan baik."

Namun, alih-alih menemukan salon modern, Bu Marni justru tersesat di sebuah toko penjahit pakaian tua yang dipenuhi oleh gulungan kain wol kasar dan benang tenun tradisional. Nenek penjaga toko yang sudah bungkuk menatapnya dengan ramah, menawarkan jarum jahit jika Bu Marni ingin belajar merajut pakaiannya sendiri. Bu Marni keluar dari toko itu dengan wajah cemberut namun geli sendiri dengan keadaannya.

Sementara itu, Pak Darto yang berwujud anak kecil langsung membaur dengan sekelompok anak-anak NPC lokal yang sedang bermain bola tendang dari kulit di lapangan rumput dekat pasar. Ia berlarian ke sana kemari tanpa beban, tertawa lepas saat berhasil merebut bola dan menendangnya masuk ke gawang kecil dari susunan batu. Bagi Pak Darto, bermain bersama anak-anak ini terasa jauh lebih berharga daripada semua terapi obat yang pernah ia jalani di dunia nyata.

Lihat selengkapnya