Matahari pagi di Kota Aurora tidak hanya memancarkan cahaya, tetapi juga kehangatan yang terasa sangat nyata di kulit. Angin sepoi-sepoi membawa aroma tanah basah dan wangi bunga lavender liar yang tumbuh di sela-sela pagar batu kota. Bagi lima belas orang yang baru saja melangkah melewati gerbang alun-alun, sensasi ini begitu membingungkan. Otak mereka tahu bahwa ini hanyalah simulasi digital yang dikendalikan oleh ribuan baris kode di Laboratorium Elysium. Namun, indra penciuman, peraba, dan penglihatan mereka bersikeras mengatakan hal yang sebaliknya: tempat ini nyata.
"Kalian sadar tidak?" Dimas memulai, memecah keheningan rombongan. Pemuda yang kini berwujud pemuda berpenampilan necis dengan jubah Merchant hijau zamrud itu meraba-raba dadanya sendiri. "Napas kita... rasanya plong banget. Di Jakarta, setiap kali bangun pagi, tenggorokan rasanya kayak habis disapu debu jalanan. Di sini... bersih banget."
"Iya, Nak Dimas," sahut Bu Marni, yang masih asyik mengagumi pantulan wajahnya di genangan air jernih dekat pembatas jalan. "Dan lihat kulitku! Sama sekali tidak ada keriput. Bahkan saat aku tersenyum selebar ini, sudut mataku tetap kencang. Ah, rasanya seperti mimpi yang tidak ingin kuakhiri."
Namun, kekaguman itu perlahan-lahan tergantikan oleh kebingungan yang praktis. Gerbang alun-alun telah terbuka lebar, memperlihatkan jalanan berbatu yang meliuk di antara barisan rumah bergaya Eropa klasik. Penduduk lokal—atau yang mereka kenal sebagai NPC—mulai lalu lalang dengan kesibukan masing-masing. Ada wanita paruh baya yang membawa keranjang buah, pria bertubuh kekar yang mendorong gerobak kayu penuh sayuran, hingga beberapa prajurit penjaga kota yang berjalan berpatroli dengan baju zirah berdenting-denting.
"Jadi... kita harus ke mana sekarang?" tanya Rafi pelan. Suara baritonnya terdengar sangat gagah, kontras dengan jemarinya yang sesekali meremas pegangan pedang di pinggangnya karena gugup. Matanya yang tajam di balik rambut perak avatarnya terus bergerak waspada, mengamati kerumunan orang yang tidak ia kenal.
"Biasanya kalau di game MMORPG, begitu selesai tutorial langsung ada tanda panah kuning di lantai atau tanda seru melayang di atas kepala orang," gumam Bimo, yang bertubuh raksasa setinggi dua meter dengan perisai baja besar terikat di punggungnya. Tapi, suara yang keluar dari mulut raksasa itu tetaplah suara anak SD berumur sepuluh tahun yang agak cempreng. "Tapi kok dari tadi aku cari-cari tanda seru itu tidak ada, ya?"
"Benar juga," Dimas ikut mencari-cari di udara kosong. "Menu status saja tidak bisa dibuka. Berarti dunia ini bebas, kan? Bagaimana kalau kita berpencar saja dulu? Lagipula, kita belum punya misi apa-apa."
Ide Dimas langsung disetujui oleh yang lain. Tanpa adanya sistem pemandu yang kaku, jiwa-jiwa yang selama ini terkekang oleh aturan ketat dunia nyata mendadak merasakan dorongan kebebasan yang luar biasa. Satu per satu, mereka mulai memisahkan diri, melangkah mengikuti rasa ingin tahu masing-masing.
Pak Darto tidak butuh waktu lama untuk menemukan tujuannya. Di sebuah lapangan rumput yang dikelilingi oleh pohon-pohon mapel berdaun oranye, sekelompok anak kecil sedang asyik bermain. Mereka tertawa riang sambil mengejar sebuah layang-layang kertas bermotif naga yang menari-nari ditiup angin sore.
Bagi Pak Darto, yang kini terperangkap di dalam wujud bocah laki-laki berusia sepuluh tahun, pemandangan itu seperti mesin waktu. Di dunia nyata, kakinya sudah terlalu lemah bahkan hanya untuk berjalan ke minimarket depan kompleks tanpa tongkat. Kesepian di rumahnya yang besar sering kali membuatnya hanya bisa menatap keluar jendela, iri pada anak-anak tetangga yang bermain sepeda.
"Hei! Aku ikut!" teriak Pak Darto dengan suara kekanak-kanakan yang nyaring. Ia berlari kencang, merasakan sensasi luar biasa ketika otot-otot kakinya yang mungil merespons dengan sempurna tanpa ada rasa nyeri di lutut.
Seorang anak NPC berambut cokelat menoleh dan tersenyum lebar. "Ayo! Tangkap talinya kalau kamu bisa!"
Pak Darto tertawa lepas. Ia melompat, mengejar bayangan layang-layang di atas rumput hijau, benar-benar melupakan fakta bahwa ia adalah seorang kakek berusia hampir delapan puluh tahun. Di lapangan itu, ia bukan lagi orang tua yang terlupakan; ia hanyalah seorang anak kecil yang sedang menikmati masa kecilnya kembali.
Sementara itu, Dimas melangkah mantap menuju area pasar yang riuh. Sebagai mahasiswa kos yang selalu memutar otak untuk bertahan hidup dengan sisa uang di dompetnya, instingnya langsung menyala ketika melihat deretan kedai yang menjual berbagai barang. Ia berjalan di sela-sela kios rempah-rempah, kain, hingga buah-buahan eksotis yang belum pernah ia lihat di dunia nyata.
"Berapa harga apel merah ini, Pak?" tanya Dimas pada seorang pedagang NPC berjanggut tebal.
"Dua koin perak untuk satu keranjang, Anak Muda," jawab sang pedagang dengan ramah.
Dimas mengangguk-angguk, mencoba meraba kantong jubahnya. Kosong. Ia baru ingat bahwa ia belum memiliki uang sepeser pun di dunia ini. Namun, alih-alih kecewa, matanya justru berbinar ketika melihat papan pengumuman di sudut pasar yang mencari tenaga kerja paruh waktu untuk mengangkut barang. Nah, ini dia peluang bisnis, pikir Dimas sambil tersenyum lebar.