Matahari pagi di Kota Aurora menyelinap di antara celah-celah bangunan batu, memantulkan pendaran emas pada jalanan setapak yang masih menyisakan embun semalam. Udara di sini tidak hanya terasa bersih; ia membawa aroma roti gandum yang baru dipanggang, wangi bunga lavender dari taman kota, dan bau samar besi panas dari arah bengkel. Namun, bagi para peserta Project Elysium, keindahan ini justru membawa kebingungan yang nyata.
Dimas, yang kini mengenakan jubah Merchant hijau zamrud yang necis, berdiri di tengah pasar dengan wajah frustrasi. Jari-jarinya berkali-kali mengetuk udara kosong di depannya. Ia mencoba melakukan gerakan swipe ke bawah, lalu pinch, hingga mengetuk pergelangan tangannya sendiri—gerakan-gerakan instingtual yang biasa dilakukan pemain MMORPG untuk memunculkan menu status atau inventory.
"Aneh... benar-benar tidak muncul," gumam Dimas. Ia menoleh ke arah peserta lain yang juga tampak konyol, melambai-lambaikan tangan ke udara seolah sedang mengusir lalat yang tak kasat mata. Tidak ada HUD (Heads-Up Display). Tidak ada bar HP berwarna merah atau bar Mana biru di sudut penglihatan mereka. Bahkan tidak ada peta mini yang biasanya membimbing pemain menuju titik tujuan.
Dimas kemudian melangkah mendekati sebuah kios besar yang penuh dengan tumpukan gandum dan karung-karung rempah. Di sana berdiri seorang pria bertubuh gempal dengan janggut lebat yang sedang sibuk mencatat sesuatu di papan kayu. Namanya Pak Boros, sang pedagang grosir.
"Permisi, Pak," Dimas mencoba berinteraksi. "Saya mau bertanya... di mana saya bisa melihat Inventory saya? Saya ingin menyimpan beberapa barang yang baru saya kumpulkan."
Pak Boros berhenti menulis, menatap Dimas dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan dahi berkerut, seolah-olah Dimas baru saja menanyakan warna suara angin. "In... ven... apa? Nak, kalau bicaramu aneh begitu, orang-orang akan mengira kamu habis jatuh dari keledai."
Dimas tersedak. "Maksud saya, tas penyimpanan... ruang dimensi untuk barang-barang?"
Pak Boros tertawa terbahak-bahak, suaranya menggelegar hingga membuat burung-burung dara di atap kios terbang. "Ruang dimensi? Kamu ini kebanyakan baca novel khayalan ya? Dengar, Nak. Di Aurora ini hukumnya sederhana. Kalau kamu punya barang dan mau menyimpannya, ya beli lemari. Kalau barangnya banyak, beli peti kayu. Kalau petinya tidak muat di kamar, ya sewa gudang!".
Dimas tertegun. Ia menyadari satu hal yang mengerikan bagi seorang gamer: di dunia ini, ia benar-benar harus mengangkut segalanya secara fisik. Tidak ada tas ajaib yang bisa menampung sepuluh bilah pedang dan seratus botol ramuan sekaligus.
Sementara itu, di sudut kota yang lebih tenang, Bu Marni sedang berjalan dengan langkah gusar. Gaun ungu sutranya menyapu lantai batu saat ia mencari sesuatu yang sangat krusial baginya: salon kecantikan. Ia ingin memastikan bahwa rambut pirang avatarnya yang indah tetap sempurna, namun sejauh mata memandang, ia hanya menemukan toko-toko tua yang berbau kayu dan kulit.
Langkah kakinya terhenti di depan sebuah bangunan dengan papan nama bergambar gunting dan jarum. Ia masuk dengan penuh harapan, namun yang ia temukan hanyalah sebuah bengkel penjahit yang dipenuhi gulungan kain wol kasar. Seorang penjahit tua dengan kacamata bertengger di ujung hidungnya menatapnya melalui pantulan cermin besar.
"Maaf, Nek. Di mana tempat untuk menata rambut? Saya butuh perawatan segera," tanya Bu Marni dengan nada menuntut.