Pagi itu, Kota Aurora masih diselimuti kabut tipis yang menyapu jalanan batu, namun aktivitas di pasar sudah mulai menggeliat. Bagi Pak Darto, yang kini berada dalam tubuh bocah laki-laki berusia sepuluh tahun, ada satu masalah besar yang tidak ia duga sebelumnya: rasa lapar. Di dunia nyata, nafsu makannya sudah jauh berkurang seiring usia, namun di dalam Memory Online, perut kecilnya justru berbunyi nyaring setiap beberapa jam.
Ia berjalan menyusuri gang di dekat alun-alun, melewati kedai-kedai yang baru saja membuka jendela kayunya. Tidak ada bar status kelaparan yang berkedip merah di sudut matanya, namun rasa perih di lambungnya terasa sangat nyata, mengirimkan sinyal ke otak bahwa ia harus segera makan.
Langkah kakinya terhenti di depan sebuah bangunan kecil dengan atap jerami yang rapi. Dari cerobong asapnya, keluar aroma gandum panggang yang sangat harum, bercampur dengan wangi mentega cair yang manis. Sebuah papan kayu kecil tergantung di atas pintu, bertuliskan: "Toko Roti Hana".
Pak Darto melangkah masuk. Suara loncing kecil di atas pintu berdenting, menyambut kedatangannya. Di dalam toko yang hangat itu, seorang wanita lansia dengan rambut putih yang disanggul rapi dan celemek penuh noda tepung sedang sibuk di balik konter. Itulah Nenek Hana.
"Permisi, Nek..." suara cempreng Pak Darto keluar secara alami. "Apakah ada sisa roti yang bisa saya beli? Saya... saya sangat lapar."
Nenek Hana menoleh, menatap Pak Darto melalui kacamata bulatnya yang tebal. Ia tidak memberikan respons layaknya NPC game pada umumnya yang langsung menawarkan menu transaksi. Sebaliknya, ia justru tersenyum lembut, sebuah senyuman yang mengingatkan Pak Darto pada mendiang istrinya.
"Oh, anak manis, roti-rotinya baru saja masuk ke oven," ujar Nenek Hana dengan suara parau namun hangat. "Tapi, Nek Hana sedang kesulitan di belakang. Sendawa tungku ini sedang rewel, dan karung gandum itu terlalu berat untuk punggung tua ini."
Pak Darto melihat ke arah sudut ruangan. Di sana, tiga karung gandum besar tergeletak di lantai, seharusnya dipindahkan ke dekat meja adonan. Tanpa berpikir panjang, naluri Pak Darto sebagai pria yang terbiasa bekerja keras muncul. Meskipun tubuhnya kecil, ia merasa jauh lebih bertenaga daripada tubuh aslinya di dunia nyata.
"Biar saya bantu, Nek," ujar Pak Darto semangat.
Ia menghampiri karung-karung itu. Dengan sedikit menggeram, ia menyeret karung gandum tersebut satu per satu. Tubuh kecilnya berkeringat, napasnya memburu, namun ada rasa puas yang aneh saat ia berhasil menata karung-karung itu dengan rapi di dekat Nenek Hana. Tidak ada notifikasi "Quest Accepted" yang muncul di udara, namun Nenek Hana tampak sangat lega.
"Terima kasih banyak, Nak. Kamu anak yang sangat rajin," puji Nenek Hana sambil mengelap keningnya.
Tak lama kemudian, aroma roti matang semakin menguat. Saat Nenek Hana mulai mengeluarkan loyang-loyang panas berisi roti gandum keemasan, pintu toko kembali berdenting. Tiga anak kecil NPC masuk dengan riuh, wajah mereka penuh semangat menantikan sarapan.
"Nenek Hana! Kami mau roti kismis!" seru salah satu anak.