PROJECT ELYSIUM

Ahmad Barnash
Chapter #9

Rumah yang Memilih Pemiliknya

Langit di atas Kota Aurora sore itu berwarna jingga kemerahan, memberikan bayangan panjang pada pilar-pilar batu di depan Balai Kota. Setelah seharian membantu warga dan mulai memahami ritme kota yang tidak memiliki sistem menu kaku ini, para peserta dikumpulkan oleh seorang pria berwibawa dengan jubah biru tua bersulam perak. Ia adalah Wali Kota Altheon, salah satu NPC dengan tingkat kecerdasan yang membuat Adrian sendiri sering kali ragu apakah ia hanya sekadar rangkaian kode.

Wali Kota Altheon berdiri di anak tangga teratas, memandang lima belas orang di hadapannya dengan senyum penuh arti. Di tangannya terdapat sebuah kotak kayu jati berukir yang berisi lima belas kunci kristal yang tampak berpendar redup.

"Kalian telah membuktikan bahwa kalian bukan sekadar pendatang yang numpang lewat," ujar Wali Kota Altheon dengan suara bariton yang mantap. "Kota ini telah menerima kehadiran kalian. Dan sebagai warga Aurora, kalian berhak memiliki tempat untuk merebahkan kepala. Namun, di Aurora, bukan kalian yang memilih rumah, melainkan rumah yang akan menemukan pemiliknya berdasarkan apa yang kalian bawa di dalam hati".

Satu per satu, para peserta menerima kunci tersebut. Saat jemari mereka menyentuh kristal dingin itu, kunci tersebut berubah warna—beberapa menjadi kuning hangat, hijau zamrud, atau biru laut. Mereka kemudian dipandu menuju sebuah kawasan perbukitan di pinggiran kota yang dikenal sebagai Residential Heights.

Pak Darto, yang masih dalam wujud bocah laki-laki petualang, adalah yang pertama sampai di lokasi yang ditunjukkan oleh kuncinya. Ia berhenti di depan sebuah pagar bambu sederhana. Di baliknya, berdiri sebuah rumah kayu panggung kecil dengan atap rumbia, dikelilingi oleh pohon-pohon mapel dan rumpun bunga kenanga. Aroma tanah basah dan wangi kenanga langsung menyerbu indra penciumannya.

"Ini... ini rumah kakek saya di desa," bisik Pak Darto dengan mata berkaca-kaca. Di dunia nyata, ia tinggal di sebuah apartemen beton yang dingin dan sepi di Jakarta, di mana satu-satunya suara adalah detak jam dinding. Ia menyentuh tiang kayu rumah itu, merasakan tekstur kasar yang sangat ia kenali dari masa kecilnya. Di sudut teras, ia menemukan sebuah layang-layang kertas bermotif naga yang sama persis dengan yang ia kejar di lapangan kemarin. Baginya, ini bukan sekadar properti digital; ini adalah ruang aman yang telah lama hilang dari hidupnya.

Di sisi lain bukit, Dimas sang Merchant berdiri terpana di depan rumahnya. Dari luar, rumah itu tampak kecil dan sederhana, mirip dengan rumah toko (ruko) di gang sempit tempat ia tumbuh besar. Namun, saat ia melangkah masuk, ia terkesiap. Hampir seluruh lantai pertama adalah sebuah dapur yang sangat luas dengan tungku api yang selalu hangat dan meja makan kayu yang besar.

Gudang di samping dapur itu penuh dengan karung-karung gandum, botol-botol selai, dan tumpukan roti yang aromanya sangat menggoda. Bagi seorang mahasiswa yang sering kali harus menahan lapar di dunia nyata demi membayar uang kuliah, rumah ini adalah perwujudan dari rasa aman yang paling ia butuhkan: kepastian bahwa ia tidak akan pernah kelaparan lagi. Dimas terduduk di kursi kayu dapurnya, meraba permukaan meja yang halus, dan untuk pertama kalinya sejak proyek ini dimulai, ia tidak lagi merasa perlu menghitung setiap butir koin di kantongnya.

Sementara itu, Bu Marni mendapatkan apa yang selalu ia impikan. Rumahnya adalah sebuah vila bergaya Victoria yang megah dengan dinding putih bersih dan jendela-jendela kaca besar yang menghadap langsung ke arah matahari terbenam. Di dalamnya, terdapat sebuah ruang rias yang sangat luas dengan cermin-cermin setinggi langit-langit yang bingkainya terbuat dari emas murni.

Bu Marni berjalan di antara cermin-cermin itu, mengagumi pantulan dirinya yang berusia dua puluh tahun dalam balutan gaun ungu sutra. Namun, ada satu cermin di sudut ruangan yang tertutup kain beludru hitam. Saat ia mencoba mendekat, perasaan cemas yang aneh merayap di dadanya—sebuah pengingat bahwa kecantikan fisik yang ia miliki sekarang hanyalah manifestasi digital dari ketakutannya terhadap usia tua di dunia nyata. Ia segera berpaling, lebih memilih membenamkan diri dalam kemewahan visual yang disediakan AURA untuknya.

Dr. Adrian, yang mengamati proses ini melalui layar monitor di ruang kendali laboratorium (setelah ia melakukan logout singkat untuk memantau data), merasa ngeri sekaligus takjub. Ia melihat bagaimana grafik Brain Mapping para peserta menyatu sempurna dengan arsitektur visual yang diciptakan AURA.

"Maya, lihat ini," Adrian memanggil asistennya. "AURA menciptakan desain interior rumah-rumah itu secara real-time tanpa ada data desain yang kita input. Ia menarik memori bawah sadar mereka—hal-hal yang bahkan tidak mereka sebutkan saat wawancara skrining".

Lihat selengkapnya