Malam di Kota Aurora bukanlah sekadar pergantian cahaya, melainkan selimut sunyi yang membawa udara dingin dari Pegunungan Harapan. Lampu-lampu minyak di sepanjang jalan utama berkedip pelan, memantulkan bayangan panjang para penduduk yang mulai mengunci pintu rumah mereka. Namun, di tengah Alun-Alun yang biasanya ceria, suara isakan kecil memecah ketenangan malam.
Mimi, gadis kecil NPC bergaun lusuh, masih berdiri di dekat air mancur. Air matanya terus mengalir, membasahi pipinya yang kemerahan. Di hadapannya, Pak Darto—yang kini berwujud bocah laki-laki berusia sepuluh tahun—berlutut di atas lantai batu yang dingin.
"Mimi, jangan menangis lagi. Kami semua di sini akan membantumu," bujuk Pak Darto dengan nada suara yang lembut, berusaha menyalurkan ketenangan seorang kakek dalam tubuh anak kecil.
Mimi mendongak, matanya yang sembab menatap Pak Darto. "Tapi... itu boneka satu-satunya dari Ibu... Boneka kain itu... dia hilang di dekat sungai...".
Dimas, yang berdiri tidak jauh dari sana, secara refleks mengetukkan jarinya ke udara kosong. Ia masih berharap sebuah jendela Quest akan muncul, memberikan petunjuk lokasi atau tanda panah emas yang menuntun mereka. Namun, udara tetap kosong. Tidak ada notifikasi "Quest Accepted: Find Mimi's Doll". Tidak ada hadiah EXP yang dijanjikan di pojok penglihatan.
"Sial, benar-benar tidak ada petunjuk sistem," gumam Dimas sambil mengacak rambutnya yang tertata rapi. "Dunia ini benar-benar membiarkan kita mencari jarum di tumpukan jerami tanpa bantuan minimap sama sekali".
Rafi, sang Knight berpakaian zirah perak, melangkah maju. Meskipun hatinya masih sering bergetar oleh kecemasan sosial, melihat kesedihan Mimi memicu sesuatu yang berbeda di dalam dirinya—sebuah janji pelindung yang tertanam dalam identitas barunya. Ia mencengkeram gagang pedangnya, bukan untuk bertarung, tapi untuk memantapkan hati.
"Kita bagi tugas," ujar Rafi dengan suara baritonnya yang kini terdengar lebih tegas. "Pak Darto dan Bimo cari di sekitar taman. Dimas, periksa area pasar. Saya dan Bu Marni akan menyisir pinggiran sungai."
Bu Marni, yang sedari tadi sibuk memastikan jubah sutra ungunya tidak terkena cipratan air mancur, sempat mendengus. "Ke sungai? Di malam gelap begini? Rambut pirangku bisa berantakan terkena embun," protesnya secara otomatis. Namun, saat matanya bertemu dengan tatapan Mimi yang hancur, kesombongan itu luruh. Ingatan akan rasa kesepian di dunia nyata, saat ia merasa tidak lagi dibutuhkan oleh anak-anaknya, mendadak berdenyut nyeri di dadanya. "Baiklah... tapi kalau gaunku kotor, kalian harus membantuku mencucinya besok."
Rombongan kecil itu pun berpencar. Di sudut Alun-Alun, Pon, sang slime biru kecil, tampak berhenti menyapu. Tubuh jely-nya yang transparan berpendar redup di kegelapan. Tanpa diperintah, Pon melompat-lompat pelan mengikuti arah Rafi dan Bu Marni menuju sungai, seolah-olah ia merasakan sesuatu yang tidak dirasakan manusia.
Di ruang kendali laboratorium, Dr. Adrian duduk terpaku. Ia melihat titik-titik koordinat para peserta di monitornya yang bergerak tidak beraturan. Tidak ada algoritma yang menggerakkan mereka. Ini adalah murni dorongan empati.
"AURA, apakah ada anomali di sektor sungai?" tanya Adrian pelan.