Malam itu, meja panjang di ruang makan Guild Hall Elysium dipenuhi oleh aroma sup jagung dan roti gandum hangat. Meski Kota Aurora baru saja memberikan senyum ramahnya setelah keberhasilan mereka menemukan boneka Mimi, suasana di dalam markas justru terasa membeku. Suara denting sendok yang beradu dengan piring porselen menjadi satu-satunya musik yang mengisi ruangan yang luas itu.
Pak Darto, dalam wujud bocah sepuluh tahun, berusaha mencairkan suasana dengan menceritakan betapa lucunya wajah Mimi saat menerima kembali bonekanya. Namun, Dimas hanya bergumam pelan tanpa menoleh, jari-jarinya terus menyendok sup dengan cepat seolah takut makanan itu akan menghilang jika ia berhenti sejenak—sebuah kebiasaan yang terbawa dari realitasnya sebagai mahasiswa yang sering menahan lapar demi menghemat uang. Di sudut meja lain, Bu Marni sibuk mengatur posisi poni rambut pirangnya menggunakan pantulan di sendok perak, memastikan penampilannya sebagai Archmage tetap sempurna meski hanya di depan meja makan.
Rafi duduk di ujung meja, matanya tertuju pada potongan roti di piring namun pikirannya melayang ke bayangan gelap yang ia lihat di sungai tadi. Ia masih merasa kaku dan tidak pantas mengenakan baju zirah Knight yang gagah ini, sementara jiwanya masih terjebak dalam kecemasan remaja yang rapuh. Tidak jauh darinya, Maya meletakkan sendoknya lebih awal. "Aku sudah selesai. Aku ingin segera pulang ke rumahku di dekat danau," ujarnya singkat dengan nada dingin sebelum beranjak pergi tanpa menunggu balasan, meninggalkan aura kecanggungan yang semakin pekat di ruangan itu.