Pagi itu, sinar matahari yang menembus jendela tinggi Guild Hall menyoroti partikel debu yang menari di udara. Ruangan besar berlantai dua itu masih terasa terlalu luas dan kosong. Hanya ada sebuah meja kayu ek panjang di tengah ruangan dan beberapa kursi yang letaknya tidak beraturan. Di sudut ruangan, suara srek-srek konsisten terdengar. Itu adalah Pon, sang slime biru kecil, yang sedang memegang pel mini dengan tubuh jelinya, berusaha membersihkan sisa noda lumpur dari sepatu bot para peserta kemarin.
Kelima belas peserta—atau kini bisa disebut anggota guild—duduk mengelilingi meja dengan ekspresi yang beragam. Ada kecanggungan yang masih kental, sisa dari makan malam sunyi semalam.
Pak Darto, dalam wujud bocah sepuluh tahun, sedang asyik mengayun-ayunkan kakinya yang tidak sampai ke lantai, sambil sesekali meraba saku bajunya untuk memastikan persediaan permennya masih ada. Di sampingnya, Bu Marni sibuk menyesuaikan letak jubah sutra ungunya, berkali-kali melirik bayangan dirinya di permukaan meja kayu yang dipoles mengkilap.
"Jadi... kita benar-benar harus melakukan ini?" suara Dimas memecah keheningan. Sang Merchant itu tampak gelisah, tangannya sibuk mencatat sesuatu di buku pengeluaran kecilnya, mungkin menghitung berapa biaya perawatan gedung sebesar ini.
"Kapten Argo bilang ini syarat dari Dewan Kota," sahut Rafi pelan. Zirah Knight-nya berdenting pelan saat ia bergerak. Meskipun terlihat gagah, ia duduk dengan bahu merosot, seolah ingin menghilang ke dalam zirah besinya sendiri.
Tepat saat itu, pintu besar Guild Hall terbuka. Kapten Argo melangkah masuk dengan jubah biru lautnya yang berkibar. Langkah kakinya yang berat menggema di ruangan yang sunyi itu. Ia meletakkan sebuah gulungan perkamen resmi dengan stempel lilin merah di atas meja.
"Dewan Kota Aurora secara resmi mengakui kelompok ini sebagai entitas warga baru," ujar Argo dengan suara bariton yang berwibawa. "Namun, setiap kelompok resmi harus memiliki struktur. Kalian harus memilih seorang Ketua—seorang Guild Master—yang akan bertanggung jawab atas tindakan kalian di kota ini."
Suasana mendadak menjadi lebih dingin dari sebelumnya. Kata "tanggung jawab" seolah menjadi alergi bagi orang-orang di ruangan itu.
"Jangan lihat saya," seru Pak Darto cepat-cepat sambil mengangkat kedua tangan mungilnya. "Saya ini di sini cuma mau menikmati masa kecil yang hilang. Yang muda-muda sajalah yang memimpin!".
"Saya juga jangan!" potong Bu Marni sambil mengibaskan tangan. "Mengurus kulit dan rambut di dunia tanpa salon ini saja sudah menghabiskan seluruh energi saya. Saya terlalu sibuk untuk urusan administrasi".
Rafi langsung menunduk lebih dalam. "Jangan saya... saya tidak bisa bicara di depan orang. Saya pasti mengacaukan semuanya," bisiknya hampir tak terdengar.
Dimas menggeleng tegas. "Asal jangan saya. Memikirkan cara agar kita tidak bangkrut di bulan pertama saja sudah membuat kepala saya mau pecah. Mencari pemimpin itu butuh orang yang visioner, bukan pedagang loak seperti saya".
Satu per satu peserta memberikan alasan. Ada yang merasa terlalu pemalu seperti Fina sang Bard, atau yang merasa terlalu lamban seperti Bimo. Hingga akhirnya, empat belas pasang mata (termasuk mata bulat Pon yang berhenti mengepel) tertuju ke satu arah: ujung meja tempat Dr. Adrian duduk.