Pagi itu, udara di pinggiran Hutan Memoria terasa sejuk namun menyimpan kelembapan yang berat. Pak Elian, sang herbalis kota yang tampak lusuh, berdiri dengan gelisah di depan gerbang kota sambil terus meremas tangannya yang gemetar. Di hadapannya, anggota Guild Elysium telah berkumpul dengan peralatan lengkap, siap menjalankan misi resmi pertama mereka: mengambil bunga Moonlight Lily di dalam Gua Kristal.
"Tolong, hati-hati," bisik Pak Elian dengan suara serak. "Gua itu tidak berbahaya jika kalian membawa obor yang cukup, tapi di bagian dalamnya... kegelapannya terasa sangat pekat, seolah-olah ia bisa menelan cahaya.".
Rafi berdiri di barisan paling depan. Dalam balutan baju zirah lempengan baja yang berkilau dan jubah perak yang berkibar ditiup angin, ia tampak seperti ksatria legendaris dari buku dongeng. Rambut peraknya yang rapi dan pedang panjang bersarung perak di pinggangnya memberikan kesan bahwa ia adalah orang yang paling bisa diandalkan dalam kelompok ini.
"Jangan khawatir, Pak Elian," ujar Rafi dengan suara baritonnya yang mantap dan tegap. "Ksatria Aurora tidak akan membiarkan warga kotanya kekurangan obat.".
Bu Marni yang berdiri di belakangnya mengangguk puas sambil sibuk merapikan rambut pirangnya yang indah. "Rafi memang ksatria yang hebat. Lihat betapa gagahnya dia. Dengan dia di depan, gua gelap itu pasti tidak ada apa-apanya," puji Bu Marni yang diam-diam merasa aman berada di dekat sosok yang tampak kuat itu.
Dimas sang Merchant tampak sibuk memeriksa ranselnya. "Aku sudah membawa stok obor ekstra dan minyak cadangan. Kita bisa menjual sisa ramuannya nanti kalau ada kelebihan," gumamnya, tetap dengan naluri bisnisnya yang tak pernah mati.
Rombongan pun mulai bergerak melintasi jalan setapak hutan. Pon, sang slime biru kecil, melompat-lompat riang di samping Bimo sang raksasa, seolah tidak peduli dengan bahaya yang mungkin menanti. Dr. Adrian berjalan di tengah, diam-diam memperhatikan detak jantung Rafi melalui antarmuka adminnya yang tersembunyi.
Setelah menempuh perjalanan satu jam, mereka tiba di mulut Gua Kristal. Lubang gua itu tampak seperti mulut raksasa yang menganga lebar di kaki bukit berbatu. Sinar matahari sore hanya mampu menjangkau beberapa meter ke dalam, meninggalkan sisanya dalam kegelapan yang abadi.
"Ayo, aku yang pimpin jalan," seru Rafi. Ia menghunus pedangnya yang bersinar redup karena pantulan cahaya luar. Langkah kakinya yang berat dengan sepatu besi terdengar mantap di atas lantai gua yang lembap.
Namun, semakin mereka melangkah masuk, suara tetesan air dari langit-langit gua mulai terdengar seperti detak jam yang menegangkan. Cahaya matahari di belakang mereka perlahan mengecil menjadi sebuah titik putih. Dimas segera menyalakan obor pertama, namun pendaran apinya hanya menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari di dinding gua yang kasar.
Tiba-tiba, langkah Rafi terhenti.
Zirah besinya beradu pelan, menimbulkan suara clank yang ganjil di keheningan gua. Bahunya yang tadinya tegap kini perlahan merosot. Pedang di tangannya mulai bergetar hebat.
"Rafi? Kenapa berhenti?" tanya Bimo dengan suara cemprengnya yang khas anak SD. "Di depan masih luas, kok."
Rafi tidak menjawab. Matanya yang tajam di balik avatar ksatria itu kini membelalak lebar, menatap ke arah kegelapan pekat di depan mereka. Di dalam kepalanya, suara tetesan air gua berubah menjadi suara kunci yang diputar pada pintu kayu tua yang berkarat. Ia tidak lagi melihat dinding gua; ia melihat lorong gelap di gudang sekolah dasarnya.