PROJECT ELYSIUM

Ahmad Barnash
Chapter #15

Merchant yang Kelaparan

Kegagalan misi di Gua Kristal menyisakan luka yang lebih perih daripada sekadar rasa malu. Di Kota Aurora, di mana sistem game tidak menyediakan pengisian HP atau energi secara instan, rasa lapar adalah konsekuensi fisik yang harus dibayar mahal. Pagi itu, di ruang makan Guild Hall Elysium, suasana terasa sangat suram.

Bimo, sang raksasa berumur sepuluh tahun, duduk lesu dengan kepala bersandar di atas meja kayu. Perutnya berbunyi nyaring, menggema di ruangan yang sunyi itu. "Aku lapar... Kenapa tidak ada apa-apa di dapur?" rintih Bimo dengan suara cemprengnya yang pilu.

Maya, sang perawat yang kini menjadi High Priest, membuka lemari penyimpanan di dapur dengan kasar. "Kosong. Sama sekali tidak ada roti, tidak ada apel, bahkan tidak ada remah biskuit," lapor Maya dengan nada ketus yang menandakan ia pun mulai kehilangan kesabaran.

Dr. Adrian mengamati dari kejauhan. Ia melihat bagaimana ketegangan ini mulai memicu "Resonansi Emosi" negatif di dalam ruangan. Cahaya lampu di langit-langit Guild Hall tampak sedikit meredup, mengikuti suasana hati para peserta.

"Kemarin Pak Elian bilang dia sudah mengirimkan pasokan gandum dan buah sebagai uang muka misi kita," gumam Rafi, yang masih duduk di sudut sambil menunduk, merasa bersalah atas kegagalan kemarin. "Seharusnya gudang kita penuh."

Tiba-tiba, mata tajam Bu Marni menangkap sesuatu. Ia melihat Dimas, sang Merchant, sedang menyelinap keluar dari arah kamarnya di lantai dua sambil memegang sebuah bungkusan kain kecil. Dimas tampak terburu-buru, matanya melirik ke kiri dan ke kanan dengan waspada.

"Dimas! Berhenti di sana!" seru Bu Marni, jubah ungunya berkibar saat ia berdiri.

Dimas tersentak. Ia membeku di tangga, tangannya semakin erat mencengkeram bungkusan itu. "Eh, ada apa, Bu Marni? Selamat pagi semuanya..."

"Apa yang kamu bawa itu?" tanya Maya, melangkah mendekat. "Dan kenapa gudang logistik guild benar-benar kosong? Kamu yang bertanggung jawab atas inventaris, kan?"

Dimas mencoba tertawa canggung. "Oh, ini... ini hanya barang dagangan pribadi. Kalian tahu kan, sebagai Merchant, aku harus terus memutar modal."

Tanpa peringatan, Bimo yang sedang kelaparan berat berlari mendekat. Dengan tangan raksasanya, ia secara tidak sengaja menyenggol bungkusan Dimas hingga terjatuh. Bungkusan kain itu terbuka di atas lantai batu, memperlihatkan isinya: tiga potong roti gandum besar, segenggam kacang panggang, dan dua buah apel merah yang segar.

Keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan.

Lihat selengkapnya