PROJECT ELYSIUM

Ahmad Barnash
Chapter #16

Chapter tanpa judul #16

Matahari di Kota Aurora sedang terik-teriknya, memantulkan cahaya pada jalanan marmer dan zirah perak para penjaga kota. Di tengah keramaian pasar, sebuah sosok raksasa setinggi dua meter melangkah dengan canggung, membuat bayangan besar yang menutupi lapak-lapak pedagang kaki lima. Sosok itu adalah Bimo, sang Guardian Tank dari Guild Elysium.

Dengan otot-otot yang menonjol seperti bongkahan batu, perisai baja raksasa di punggungnya, dan helm besi yang hanya memperlihatkan sepasang mata tajam, Bimo tampak seperti mesin pembunuh yang siap meratakan satu batalyon infanteri sendirian. Namun, di balik lempengan baja itu, jantung Bimo berdegup kencang karena alasan yang sama sekali tidak heroik: ia takut menyenggol keranjang buah orang lain.

"Permisi... maaf... lewat sebentar," gumam Bimo. Suaranya, yang seharusnya berat dan menggelegar, keluar dalam nada cempreng khas anak SD kelas empat yang sedang malu-malu.

Penduduk NPC di sekitarnya tampak menepi dengan wajah pucat. Seorang ibu-ibu yang sedang membawa kantong belanjaan bahkan menarik anaknya menjauh. "Jangan dekat-dekat, Nak. Itu pasti tentara bayaran dari pegunungan yang haus darah," bisiknya ketakutan. Bimo hanya bisa menunduk, merasa sedih karena di dunia nyata ia sering diintimidasi karena tubuhnya yang gemuk, dan di dunia ini ia justru ditakuti karena tubuhnya yang terlalu kuat.

Tak jauh di belakangnya, rombongan Guild Elysium berjalan dengan santai. Bu Marni, sang Archmage cantik, sedang sibuk mengatur poni rambut pirangnya yang berkilau menggunakan pantulan di permukaan perisai Bimo sebagai cermin darurat.

"Bimo, jangan jalan terlalu cepat! Rambutku bisa berantakan kalau kena angin dari kibasan jubahmu!" seru Bu Marni dengan nada menuntut. Ia berjalan dengan anggun, sesekali berpose saat merasa ada NPC yang menatapnya, benar-benar menikmati tubuh mudanya yang berusia dua puluh tahun.

Langkah Bimo terhenti di dekat taman kecil di depan Guild Hall. Di sana, terdapat deretan bunga Aurora Lily yang baru saja mekar, memancarkan aroma manis yang menenangkan. Bimo, yang diam-diam memiliki sisi lembut dan hobi mengoleksi benda-benda lucu, terpaku melihat bunga itu. Ia membungkuk, mencoba mengamati kelopak bunga itu lebih dekat.

KRAK!

Karena tubuh raksasanya yang terlalu berat dan kakinya yang besar, Bimo tanpa sengaja menginjak pinggiran taman batu, menghancurkan sekelompok bunga Lily yang menjadi kebanggaan warga sekitar.

"BIMO!" teriakan melengking Bu Marni membuat burung-burung di atap Guild Hall beterbangan. "Lihat apa yang kamu lakukan! Itu bunga-bunga cantik yang baru saja kupuji tadi pagi! Dasar ceroboh! Tubuh besar saja yang dipelihara, tapi otakmu tidak dipakai untuk melihat jalan!".

Bu Marni memarahi Bimo habis-habisan, tangannya berkacak pinggang dengan wajah yang merah padam. Baginya, keindahan adalah segalanya, dan kecerobohan Bimo adalah penghinaan terhadap estetika kota.

Bimo membeku. Di dunia nyata, ia adalah korban bullying yang paling takut jika ada orang dewasa yang meninggikan suara padanya. Di dalam kepalanya, suara Bu Marni mendadak berubah menjadi suara guru atau teman-teman sekolahnya yang selalu mengejeknya karena lamban.

Bibir bawah raksasa itu mulai bergetar. Matanya yang tajam di balik helm besi mulai berkaca-kaca.

Lihat selengkapnya