PROJECT ELYSIUM

Ahmad Barnash
Chapter #17

Scout Pencuri Ayam

Pagi di Kota Aurora biasanya dimulai dengan tenang, namun bagi Pak Darto, ketenangan adalah sesuatu yang membosankan,. Sebagai kakek berusia 78 tahun yang terjebak dalam tubuh bocah sepuluh tahun, ia memiliki energi yang seolah tidak ada habisnya,. Dengan setelan Scout kulitnya yang ringan dan sepatu bot yang gesit, ia menjelajahi sudut-sudut kota yang belum terjamah oleh anggota Guild Elysium lainnya,.

Langkah kecilnya terhenti di sebuah gang sempit di belakang pasar loak. Di sana, ia melihat seorang anak kecil NPC bernama Tobi. Tobi duduk bersandar di tumpukan karung gandum kosong dengan wajah pucat dan perut yang berbunyi nyaring. Di dunia nyata, Pak Darto selalu merasa bersalah setiap kali melihat anak kecil yang kekurangan—mengingat ia sendiri sering merasa diabaikan oleh anak kandungnya,.

"Eh, Cu... maksudku, Dek. Kamu lapar ya?" tanya Pak Darto, hampir lupa kalau suaranya sekarang tinggi dan kekanak-kanakan,.

Tobi mendongak dengan mata sayu. "Ibuku sakit, Kak. Kami belum makan sejak kemarin karena tabungan kami habis untuk membeli ramuan herbal."

Hati Pak Darto mencelos. Ia meraba sakunya, namun hanya menemukan sebutir permen rasa jahe—kebiasaan kecilnya yang selalu ia bawa ke mana-mana,. Ia memberikan permen itu, tapi ia tahu itu tidak cukup. Ia teringat Dimas yang sekarang sangat ketat mengunci anggaran guild setelah insiden penimbunan makanan kemarin,. Meminta uang pada Dimas saat ini sama saja dengan meminta air di padang pasir.

"Tunggu di sini. Kakek... eh, Kakak akan carikan makanan yang bergizi," ujar Pak Darto dengan penuh tekad.

Pak Darto melesat menuju pinggiran kota, tempat barisan kandang ayam milik Pak Karsa, seorang peternak yang terkenal pelit dan pemarah di Aurora. Di sana, seekor ayam jago berbulu merah keemasan yang tampak sangat gemuk sedang mematuk-matuk tanah dengan angkuh. Pak Darto berpikir singkat: Satu ayam ini bisa jadi sup untuk Tobi dan ibunya selama dua hari.

Menggunakan kemampuan Scout-nya yang memiliki tingkat kelincahan tinggi, Pak Darto mengendap-endap di balik pagar kayu,. Ia melompat dengan lincah, gerakannya seringan angin. Dengan satu gerakan cepat yang ia pelajari dari menonton film aksi di masa tuanya, ia menangkap ayam itu dan membekap paruhnya.

KOKOK—MMPPHH!

Ayam itu sempat mengeluarkan suara tercekik. Sayangnya, Pak Karsa yang sedang membersihkan kandang di sebelah mendengar keributan itu.

"Maling! Ada maling bocah mencuri ayam jago kesayanganku!" teriak Pak Karsa sambil mengangkat garu rumputnya.

Pak Darto terlonjak. Tanpa pikir panjang, ia memeluk ayam itu erat-erat dan mulai berlari sekencang mungkin. "Maaf, Pak! Ini untuk urusan darurat!" teriaknya sambil melesat keluar pagar.

Aksi kejar-kejaran itu berubah menjadi tontonan komedi di jalanan Aurora. Pak Darto berlari zig-zag melewati gerobak sayur, melompat ke atas tumpukan jerami, dan sesekali merayap di bawah jemuran warga. Ayam di pelukannya terus mengepakkan sayap, menutupi wajah Pak Darto dengan bulu-bulu merah.

Lihat selengkapnya