PROJECT ELYSIUM

Ahmad Barnash
Chapter #18

Quest Gagal Total

Pagi itu, Kota Aurora sedang bersiap untuk salah satu momen paling penting dalam kalender tahunannya: Panen Raya Musim Gugur. Udara dipenuhi aroma gandum matang yang manis dan tanah kering yang hangat. Di depan Guild Hall Elysium, semangat para anggota sedang berada di puncaknya setelah keberhasilan mereka memenangkan hati warga melalui drama "pencurian ayam" Pak Darto tempo hari.

Dr. Adrian berdiri di depan meja kayu besar di aula utama, menatap sebuah pengumuman resmi yang baru saja diantarkan oleh kurir kota. "Teman-teman, hari ini kita mendapat mandat langsung dari Dewan Kota. Desa Argopuro di pinggiran Aurora membutuhkan bantuan kita untuk mengangkut hasil panen buah-buahan premium ke pasar kota sebelum matahari terbenam," jelas Adrian sambil menatap empat belas orang lainnya.

"Hanya mengangkut buah? Itu mah kecil!" seru Bimo sambil menepuk perisai raksasanya dengan bangga. "Tubuhku kan kuat, sekali angkut pasti beres!".

Dimas sang Merchant sudah sibuk dengan buku catatannya. "Kalau kita bisa membantu petani mengangkutnya dengan cepat, mungkin kita bisa menegosiasikan komisi tambahan atau hak jual eksklusif di pasar," gumamnya, otaknya sudah berputar memikirkan keuntungan koin perak.

"Dan bayangkan betapa cantiknya kalau kita masuk kota membawa kereta penuh buah-buahan warna-warni," timpal Bu Marni sambil sibuk merapikan poni rambut pirangnya di depan cermin kecil miliknya. "Ini akan menjadi momen promosi yang sangat estetis untuk Guild kita."

Hanya Rafi yang tampak masih kaku. Ia mencengkeram gagang pedangnya, berusaha keras untuk terlihat seperti ksatria yang bisa diandalkan demi menebus kegagalannya di Gua Kristal. "Saya akan memastikan tidak ada gangguan di sepanjang jalan," ujarnya dengan suara bariton yang dibuat setegas mungkin.

Namun, di balik semangat itu, Adrian merasakan ada sesuatu yang kurang: mereka masih berbicara tentang "saya" dan "keuntungan saya", bukan "kita". Pon, sang slime biru, tampak berhenti menyapu sejenak, menatap mereka dengan tubuh jelinya yang bergetar pelan, seolah merasakan ketidakharmonisan yang mulai merayap.

Setibanya di perkebunan, kekacauan dimulai hampir seketika. Tidak ada rencana, tidak ada pembagian tugas yang jelas. Semua orang merasa bisa menyelesaikan tugas ini dengan cara mereka masing-masing.

Pak Darto, yang seharusnya memantau rute sebagai Scout, justru asyik duduk di bawah pohon bersama para petani tua, bertukar cerita tentang masa muda sambil mengunyah permen jahe dari sakunya. Ia merasa bahwa membangun hubungan sosial lebih penting daripada sekadar mengangkat karung.

"Kek, ayo bantu! Keretanya sudah mulai penuh!" panggil Bimo.

"Sebentar, Cu! Ini Pak Karsa lagi cerita tentang jenis pupuk terbaik!" balas Pak Darto sambil tertawa renyah, benar-benar menikmati perannya sebagai bocah petualang.

Sementara itu, Bimo yang merasa memiliki tenaga raksasa, mulai menumpuk karung-karung berisi buah apel dan anggur ke atas kereta kayu dengan sembarangan. Ia tidak memperhatikan keseimbangan beban, hanya ingin menunjukkan betapa kuatnya dia sebagai seorang Guardian. "Lihat ini! Sekali angkat lima karung!" seru Bimo sambil terbahak, meski roda kereta kayu itu mulai mengeluarkan suara derit yang mengkhawatirkan.

Bu Marni sama sekali tidak membantu pekerjaan berat. Ia justru sibuk memilih bunga-bunga liar di pinggir kebun untuk dirangkai menjadi hiasan di sisi kereta. "Kereta ini harus terlihat indah saat masuk kota. Penampilan adalah segalanya, tahu!" omelnya saat Dimas memintanya membantu menata buah.

Dimas sendiri justru sibuk bernegosiasi dengan petani lain di sekitarnya. "Pak, kalau buah ini saya bantu pasarkan dengan sistem pre-order di kota, kita bisa bagi hasil 60-40," tawarnya, mengabaikan karung-karung buah yang mulai menumpuk tidak stabil di belakangnya karena ia terlalu fokus pada potensi profit.

Rafi, yang ingin membuktikan keberaniannya, berjalan terlalu jauh ke depan untuk "membersihkan jalan". Ia meninggalkan kereta tanpa pengawasan, membiarkan egonya sebagai ksatria penjelajah mengambil alih. Ia terlalu sibuk menebas semak-semak yang sebenarnya tidak menghalangi jalan, berharap ada monster yang muncul agar ia bisa menunjukkan kehebatannya.

Lihat selengkapnya