Jakarta pada tahun 2027 adalah sebuah labirin beton yang tidak pernah tidur, namun entah mengapa, pagi ini suasananya terasa jauh lebih menyesakkan daripada biasanya. Kabut polusi menggantung rendah di atas jalanan, menyaring sinar matahari menjadi pendaran abu-abu yang kusam. Bagi para peserta Project Elysium, ini adalah hari di mana dinding antara realitas dan simulasi mulai menipis, di mana luka yang mereka bawa dari rumah mulai merembes masuk ke dalam dunia digital Aurora,.
Pak Darto duduk di tepi tempat tidurnya yang rapi di panti jompo, matanya terpaku pada layar ponsel pintar yang diletakkan di atas meja kecil,. Hari ini adalah ulang tahunnya yang ke-78 menurut kalender dunia nyata,. Semalam, anaknya yang berada di luar negeri berjanji akan melakukan video call pada pukul tujuh pagi.
Waktu menunjukkan pukul 07.15. Lalu 07.45. Layar ponsel itu tetap gelap, hanya memantulkan wajah Pak Darto yang tampak sangat tua dan lelah, jauh dari wujud bocah petualang lincah yang biasa ia perankan di Aurora,. Getaran yang ia tunggu tidak pernah datang. Sebuah pesan singkat masuk sepuluh menit kemudian: "Maaf Yah, kerjaan kantor lagi kacau. Nanti malam saja ya."
Pak Darto menghela napas panjang, sebuah suara yang terdengar begitu hampa di kamar yang sunyi itu. Ia mematikan ponselnya, meraba saku bajunya untuk mencari permen jahe—kebiasaan kecilnya yang selalu memberinya sedikit ketenangan—namun sakunya kosong,. Kesepian itu kembali lagi, lebih berat dan lebih dingin daripada biasanya.
Di belahan Jakarta yang lain, Rafi sedang berjuang menembus kemacetan dengan sepeda motor tuanya. Remaja 17 tahun itu mengenakan jaket tudung hitam yang ditarik rendah, berusaha menyembunyikan diri dari dunia yang ia anggap sebagai ancaman,. Pikirannya masih kacau karena nilai ujian susulannya yang gagal, menambah beban depresi yang selama ini ia pikul,.
Saat ia melewati sebuah gang sempit, seekor anjing liar bertubuh besar tiba-tiba melompat ke tengah jalan sambil menggonggong keras. "Guk! Guk! Guk!",.
Suara itu menghantam saraf Rafi seperti sengatan listrik. Ingatan tentang gudang sekolah yang gelap dan gonggongan anjing yang mengurungnya bertahun-tahun lalu meledak di kepalanya,. Rafi mengerem mendadak, membuat motornya hampir jatuh. Jantungnya berpacu gila-gilaan, napasnya memburu di balik helm,. Ia tiba di laboratorium dengan wajah pucat pasi dan tangan yang masih gemetar hebat, sebuah kondisi yang sangat kontras dengan zirah ksatria gagah yang akan ia kenakan sebentar lagi,.
Sementara itu, di sebuah rumah sakit swasta, Maya baru saja keluar dari ruang kepala perawat dengan mata yang memerah. Ia baru saja dimarahi habis-habisan karena terlambat menyerahkan laporan administrasi pasien, padahal ia sudah bekerja lembur selama dua belas jam.
"Kamu itu perawat, Maya! Bukan selebriti yang bisa datang dan pergi sesuka hati!" kata-kata atasannya masih terngiang-ngiang, memicu trauma toxic relationship yang pernah ia alami sebelumnya,. Maya melepaskan seragam perawatnya dengan kasar, masuk ke dalam mobilnya tanpa semangat hidup. Ia merasa seperti sebuah mesin yang terus diperas hingga kering, dan hari ini, ia benar-benar tidak ingin menyembuhkan siapa pun—bahkan di dalam dunia game sekalipun,.
Kondisi tidak jauh berbeda dialami oleh Dimas. Mahasiswa ekonomi itu berdiri di depan mesin ATM dengan wajah putus asa,. Saldo di layarnya menunjukkan angka yang menyedihkan: lima belas ribu rupiah. Itu adalah uang terakhirnya untuk tiga hari ke depan. Perutnya berbunyi nyaring, memberikan rasa perih yang sudah sangat ia kenali sebagai "trauma kelaparan",. Ia berjalan kaki menuju laboratorium demi menghemat ongkos, berpura-pura baik-baik saja saat berpapasan dengan asisten laboratorium, padahal pandangannya mulai berkunang-kunang karena belum makan sejak kemarin.