PROJECT ELYSIUM

Ahmad Barnash
Chapter #20

Resonansi

Di dalam Laboratorium Elysium yang steril, cahaya neon putih memantul pada deretan monitor yang menampilkan grafik-grafik rumit. Suara ketikan papan ketik yang cepat beradu dengan dengung pendingin ruangan yang bekerja maksimal. Dr. Adrian Pratama berdiri di depan layar utama dengan kening yang berkerut dalam, mengamati anomali data yang belum pernah ia temukan sebelumnya selama bertahun-tahun meneliti AI AURA.

"Dr. Adrian, ada fluktuasi besar pada sektor lingkungan!" seru Rian, teknisi senior yang duduk di sampingnya. "Suhu rata-rata di Kota Aurora turun tiga derajat secara mendadak. Kecerahan langit berkurang 15%, dan warna-warna tekstur alam mulai memudar menjadi keabu-abuan. Kami mengira ini adalah server bug atau kerusakan pada modul pemrosesan visual.".

Adrian tidak segera menjawab. Matanya tertuju pada grafik detak jantung dan gelombang otak lima belas peserta yang sedang terbaring di dalam kapsul VR. Ia melihat pola yang sinkron: lonjakan kecemasan pada Rafi, gelombang keputusasaan pada Pak Darto, dan kemarahan yang tertahan pada Maya.

"Rian, periksa kembali integritas kode sumber dasar," perintah Adrian dengan suara tenang namun tegas. "Apakah ada error pada algoritma cuaca?".

"Tidak ada, Dok. Semuanya normal. Tidak ada kebocoran memori, tidak ada aset yang korup," jawab Rian setelah melakukan pemindaian cepat. "Tapi sistem visual justru bertindak seolah-olah ada beban berat yang menekan seluruh dunia tersebut.".

Adrian menghela napas panjang. Ia tahu ini bukan masalah teknis, melainkan masalah jiwa. "Biarkan saja. Aku akan masuk untuk memeriksa kondisi di dalam secara langsung. Pantau terus kondisi vital para peserta dari sini.".

Begitu kesadaran Adrian mendarat di Kota Aurora, ia langsung merasakan perbedaan atmosfer yang menyesakkan. Langit yang biasanya berwarna biru cerah dengan matahari yang hangat kini tertutup oleh awan kelabu yang menggantung rendah. Angin yang berembus tidak lagi membawa wangi lavender, melainkan hawa dingin yang kering dan pahit.

Adrian, yang mengenakan jubah Paladin peraknya, berjalan menyusuri jalanan utama. Ia melihat para penduduk NPC yang biasanya ramah dan sibuk dengan rutinitas mereka, kini menunjukkan perilaku yang ganjil.

Langkah kakinya terhenti di depan bengkel pandai besi milik Pak Boros. Biasanya, Pak Boros memang galak, namun kemarahannya selalu memiliki alasan profesional—seperti kualitas besi yang buruk atau api tungku yang kurang panas. Namun kali ini, Adrian melihat Pak Boros sedang berdiri mematung di depan paronnya.

Tiba-tiba, tanpa ada pemicu, Pak Boros mengangkat palu besarnya tinggi-tinggi dan menghantamkannya ke atas meja besi yang kosong dengan kekuatan penuh. DANG! Suara dentuman itu memekakkan telinga, membuat beberapa penduduk yang lewat tersentak kaget.

Lihat selengkapnya