Hujan hitam yang mengguyur Kota Aurora tidak seperti hujan di dunia nyata. Tetesannya tidak hanya dingin, tetapi terasa berat dan lengket, seolah setiap rintiknya membawa sisa-sisa kegelisahan yang menyangkut di kulit. Di tengah suasana yang kelabu ini, Maya—sang High Priest—berdiri di bawah kanopi Guild Hall dengan tangan bersedekap. Wajahnya yang biasanya tenang kini tampak sangat kaku, dengan sorot mata yang penuh dengan kemarahan yang tertahan.
Di dunia nyata, Maya baru saja mengalami pagi yang mengerikan. Dimarahi oleh atasannya di rumah sakit di depan rekan kerja karena masalah administratif yang sepele telah menghancurkan sisa-sisa harga dirinya hari itu. Luka dari toxic relationship masa lalunya mendadak berdenyut kembali, membuatnya merasa bahwa tidak peduli seberapa keras ia membantu orang lain, ia tidak akan pernah benar-benar dihargai.
"Maya, tolong lihat Pak Boros," suara Adrian memecah keheningan. Sang Paladin itu datang mendekat dengan napas sedikit terengah. "Dia tidak sengaja menghantam tangannya sendiri dengan palu karena konsentrasinya terganggu. Luka bakarnya cukup parah."
Maya melirik ke arah bengkel pandai besi yang letaknya tidak jauh dari Guild Hall. Di sana, Pak Boros sedang duduk di atas balok kayu sambil memegang pergelangan tangannya yang memerah dan melepuh. Namun, alih-alih bergerak, Maya justru memalingkan wajahnya.
"Gunakan ramuan dari Dimas saja," jawab Maya dingin. "Aku sedang tidak ingin mengeluarkan mantra penyembuh."
Adrian tertegun. Ia tahu kebiasaan Maya: jika hatinya sedang terluka atau marah, ia akan benar-benar mogok menjalankan perannya sebagai healer. "Maya, ini bukan tentang quest. Pak Boros adalah penduduk kota ini. Dia kesakitan karena terpengaruh oleh resonansi emosi kita."
"Lalu siapa yang peduli dengan rasa sakitku?" suara Maya tiba-tiba meninggi, pecah oleh emosi yang tertahan sejak di laboratorium. "Di dunia nyata aku menyembuhkan orang setiap jam, setiap menit, tapi yang kudapat hanya makian. Di sini pun aku harus melakukan hal yang sama? Aku bukan mesin penyembuh, Adrian!".
Mendengar perdebatan itu, Pak Boros perlahan berdiri. Ia menyeka keringat dingin di dahinya dan menatap Maya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Tidak apa-apa, Nak Maya," ujar Pak Boros dengan suara parau yang kehilangan wibawa biasanya. "Luka ini... tidak seberapa dibanding beban yang kulihat di matamu. Istirahatlah."
Meskipun Pak Boros mencoba tersenyum, ada kekecewaan yang sangat nyata di wajahnya. Ia berbalik dan berjalan tertatih masuk ke dalam bengkelnya yang gelap. NPC lain yang berada di sekitar pasar juga mulai bertindak aneh. Mereka yang biasanya saling menyapa kini mulai saling mengabaikan, menutup jendela rumah mereka dengan keras, atau saling melempar tatapan sinis tanpa alasan yang jelas.