PROJECT ELYSIUM

Ahmad Barnash
Chapter #22

Kota yang Kehilangan Warna

Hujan hitam yang turun kemarin memang telah mereda, namun ia tidak benar-benar pergi. Ia meninggalkan jejak berupa lapisan kelabu yang seolah menyedot saturasi warna dari seluruh penjuru Kota Aurora. Pagi ini, tidak ada pendaran emas matahari yang menyambut dari celah bangunan batu. Langit tetap mendung, berwarna abu-abu pekat yang menekan, menciptakan suasana yang lebih mirip pemakaman daripada sebuah kota fantasi yang hidup.

Dr. Adrian berdiri di balkon Guild Hall, menatap ke arah alun-alun. Ia menyadari sebuah anomali visual yang mengerikan: bunga-bunga Aurora Lily yang biasanya berpendar putih bersih di sepanjang jalan kini layu secara massal, kelopaknya menghitam dan mengerut seolah terbakar oleh hawa dingin yang tak kasat mata. Lebih aneh lagi, air mancur pusat kota—yang merupakan simbol aliran kehidupan di Aurora—telah berhenti mengalir sepenuhnya. Air di kolamnya menjadi tenang, hitam, dan memantulkan wajah-wajah penduduk yang muram tanpa riak sedikit pun.

"Bahkan burung-burung pun pergi," bisik Bimo dari belakang Adrian. Sang Guardian raksasa itu memeluk perisainya erat-erat. Biasanya, alun-alun dipenuhi burung dara yang berebut remah roti, namun hari ini, langit benar-benar sepi. Tidak ada kepakan sayap, tidak ada kicauan pagi; hanya kesunyian yang mencekam.

Adrian membuka layar adminnya secara tersembunyi. Angka ungu itu berdenyut semakin cepat. [Resonance Level: 7%]. Ia tahu bahwa peningkatan ini terjadi karena akumulasi beban mental para peserta di dunia nyata yang belum terselesaikan: kesepian Pak Darto, kemarahan Maya, dan tekanan ekonomi Dimas.

Rombongan Guild Elysium memutuskan untuk berjalan menyusuri kota, mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi pada penduduk. Mereka berhenti di depan toko roti Nenek Hana. Pintu kayu toko itu terbuka sedikit, namun tidak ada aroma wangi gandum yang biasanya menyambut dari jarak puluhan meter.

Di dalam, Nenek Hana sedang duduk di kursi goyangnya, tangannya yang keriput hanya diam di atas pangkuan. Ia tidak lagi memegang adonan atau nampan roti. Matanya menatap kosong ke arah jendela yang tertutup kabut tipis.

"Nek, apa Nenek tidak membuat roti hari ini?" tanya Dimas dengan nada yang lebih lembut dari biasanya, rasa laparnya sendiri mendadak hilang digantikan oleh kecemasan.

Nenek Hana menoleh perlahan. Tatapannya tampak jauh, seolah ia sedang mencoba mengingat sesuatu yang sangat berharga namun sulit digapai. "Roti? Ah... aku lupa bagaimana rasanya membuat sesuatu yang hangat," bisiknya dengan suara yang terdengar sangat lelah. "Lagipula... sudah lama sekali aku tidak melihat matahari. Untuk apa aku memanggang jika dunia sudah begitu gelap?".

Dimas tertegun, lalu melirik jam digital di antarmuka sistemnya yang hanya bisa dilihat oleh pemain. "Tapi Nek... matahari baru menghilang satu hari yang lalu," sahut Dimas pelan.

Lihat selengkapnya