PROJECT ELYSIUM

Ahmad Barnash
Chapter #23

Bayangan Pertama

Langkah kaki rombongan Guild Elysium terdengar berat di atas tanah Hutan Memoria yang kini kehilangan kesuburannya. Tidak ada lagi pendaran cahaya dari jamur-jamur hutan atau kicauan burung yang biasanya menemani perjalanan mereka. Langit di atas tetap berwarna kelabu pekat, dan udara terasa semakin tipis seolah-olah oksigen di dunia ini mulai terserap oleh entitas yang tidak mereka kenali.

Di depan mereka, kabut hitam yang merayap turun dari Pegunungan Harapan kini berdiri tegak seperti dinding raksasa yang memisahkan dunia Aurora yang mereka kenal dengan kegelapan yang tak terjamah. Kabut itu tidak diam; ia berputar-putar, berdenyut pelan dengan pendaran ungu tua yang menyeramkan—warna yang sama dengan grafik Resonance Level di layar admin Dr. Adrian.

"Dok, kita beneran mau masuk ke sana?" suara Bimo terdengar bergetar di balik helm besi raksasanya. Tubuh Guardian-nya yang setinggi dua meter itu tampak menyusut secara mental. Ia memeluk perisai bajanya erat-erat, seolah benda itu bisa melindunginya dari rasa takut yang mulai merambat naik dari dadanya.

Dr. Adrian, yang mengenakan jubah Paladin peraknya, menatap dinding kabut itu dengan tajam. Tangannya menggenggam buku catatan kecilnya, sebuah kebiasaan yang selalu ia lakukan untuk menenangkan pikirannya yang sedang bergejolak. "Kita harus tahu apa yang ada di dalamnya, Bimo. Jika kita membiarkan kabut ini turun lebih jauh, Kota Aurora akan benar-benar kehilangan seluruh memorinya," jawab Adrian tegas.

"Ayo. Jangan jadi pengecut," cetus Maya dengan nada ketus, meskipun tangannya yang memegang tongkat penyembuh tampak memutih karena cengkeraman yang terlalu kuat. Sisa amarahnya dari dunia nyata semalam masih membekas, memberinya semacam keberanian semu yang dingin.

Satu per satu, mereka melangkah masuk.

Saat tubuh mereka tertelan oleh kabut hitam, sensasi dingin yang luar biasa langsung menusuk tulang. Cahaya obor yang dibawa Dimas meredup seketika, hanya menyisakan pendaran ungu yang aneh. Ruang di sekitar mereka mendadak terdistorsi. Meskipun mereka berjalan berdampingan, suara langkah kaki rekan mereka mulai terdengar jauh, digantikan oleh bisikan-bisikan yang hanya bisa didengar oleh telinga masing-masing.

"Lho... teman-teman? Kalian di mana?" teriak Pak Darto.

Di mata Pak Darto, hutan itu menghilang. Ia kini berdiri di tengah ruang tamu rumahnya yang besar di Jakarta. Namun, rumah itu sangat sunyi. Tidak ada perabotan, tidak ada suara TV, hanya ada ponsel pintarnya yang tergeletak di lantai, berdering tanpa ada yang mengangkat.

"Halo? Nak? Ini Ayah..." bisik Pak Darto sambil memungut ponsel itu. Namun, layar ponsel itu berubah menjadi abu, dan dinding rumahnya perlahan-lahan runtuh, meninggalkannya sendirian di tengah kehampaan yang gelap. Inilah manifestasi ketakutannya: kesepian absolut di mana kehadirannya tidak lagi dianggap oleh dunia nyata.

Di sudut lain kabut, Bu Marni menjerit kecil. Cermin emas yang selalu ia bawa mendadak memburam. Saat ia mengusap permukaannya, pantulan yang muncul bukan lagi gadis cantik berusia dua puluh tahun. Ia melihat dirinya yang asli: wanita lanjut usia dengan kulit yang keriput, rambut yang menipis, dan mata yang redup.

Lihat selengkapnya