Langit di atas Kota Aurora kini tidak lagi hanya sekadar kelabu; ia tampak seperti genangan tinta hitam yang diaduk perlahan, memberikan tekanan atmosfer yang membuat setiap napas terasa berat. Rintik hujan hitam yang turun sejak kemarin telah meninggalkan noda permanen pada bangunan batu dan tanaman, mematikan warna-warna cerah yang biasanya menjadi kebanggaan kota ini. Di dalam Guild Hall Elysium, Dr. Adrian berdiri di depan layar admin yang melayang, menatap angka ungu yang kini berdenyut dengan ritme yang menakutkan.
[Resonance Level: 12%].
Angka itu berkedip merah, sebuah peringatan bahwa batas kestabilan emosi kolektif para peserta telah melampaui zona aman. Adrian menyadari bahwa setiap desah napas kesepian Pak Darto, sisa kemarahan Maya, dan kecemasan Rafi telah terakumulasi menjadi energi mentah yang kini sedang merobek realitas digital Aurora dari dalam.
"Dok, lihat di luar!" teriak Bimo dari ambang pintu. Sang raksasa pelindung itu menunjuk ke arah utara dengan tangan gemetar.
Adrian dan anggota guild lainnya berhamburan ke pekarangan. Di kejauhan, Pegunungan Harapan—yang seharusnya menjadi tempat latihan bagi para petualang untuk mengasah tekad—kini telah menghilang di balik kabut hitam pekat yang menjulang hingga ke langit. Kabut itu tidak lagi hanya diam di lereng gunung; ia bergerak, bergejolak seperti badai yang sedang menahan amarah.
"Kita harus pergi ke sana sekarang," ujar Adrian dengan nada suara yang tidak menerima bantahan. "Jika kita membiarkan resonansi ini terus meningkat, AURA akan kehilangan kendali atas arsitektur dunia ini, dan kita semua akan terjebak dalam proyeksi kegelapan kita sendiri.".
Perjalanan menuju kaki Pegunungan Harapan terasa seperti perjalanan menuju akhir dunia. Sepanjang jalan, mereka melihat para penduduk NPC yang biasanya ramah kini hanya duduk bersimpuh di tanah, menatap kosong ke arah gunung. Nenek Hana tidak lagi menawarkan roti; ia hanya memeluk nampan kosong dengan air mata yang mengalir tanpa suara. Pon, sang slime biru, melompat-lompat kecil di belakang rombongan, warna tubuhnya kini benar-benar keruh dan dipenuhi bercak kelabu, seolah ia memikul separuh dari kesedihan kota ini.
Begitu mereka sampai di perbatasan kabut, tanah di bawah kaki mereka mendadak berguncang hebat. Suara gemuruh dari perut bumi terdengar seperti raungan monster purba yang terbangun dari tidur panjang.
KRAAAKKK!
Tepat di depan mata mereka, tanah terbelah menjadi retakan besar yang memancarkan cahaya ungu pekat. Dari dalam retakan tersebut, sebuah struktur raksasa perlahan-lahan muncul, naik ke permukaan dengan suara gesekan batu yang memekakkan telinga. Sebuah gerbang batu kuno yang tinggi dan megah berdiri tegak, membelah kabut hitam. Gerbang itu tidak pernah ada dalam desain asli yang dibuat Adrian; permukaannya dipenuhi ukiran yang menyerupai wajah-wajah manusia yang sedang berteriak dalam diam.