Malam itu, halaman belakang rumah Hanum diselimuti udara dingin. Hujan sore masih menyisakan aroma tanah basah, sementara lampu gantung kecil di gazebo memantulkan cahaya temaram ke wajah lima anak itu.
Mereka duduk melingkar. Laptop Tito terbuka di tengah. Layarnya memantulkan cahaya biru ke wajahnya. Tito mengetik cepat, earphone terpasang di salah satu telinganya, sementara jari-jarinya lincah berpindah dari keyboard ke mouse. Empat pasang mata lain menunggu, cemas dan tak sabar.
“Jadi gini ya rasanya punya power?” Tito bergumam dengan senyum tipis, matanya masih fokus ke layar. “Data sesulit ini bisa ada di tangan kita dalam waktu cepat. Dunia ini bener-bener bisa dibolak-balik kalau orang yang tepat pegang kuncinya.”
Elang mengangkat alis. “Jangan kebablasan lo, To.”
“Tenang. Gue bukan tipe orang yang pake ini buat seneng-seneng. Gue punya tujuan jelas.” Tito menutup proses terakhir dengan bunyi klik. “Done. Data udah aman di laptop gue. Sekarang kita lihat…”
Hanum menegakkan duduknya, Nadine menggigit kuku, Helmi merapatkan jaketnya meski udara tak sedingin itu.
Di layar, muncul biodata lengkap: Ranu Saputra, siswa kelas 12C SMA Nirwana.
Alamat, tanggal lahir, riwayat sekolah, catatan kesehatan, sampai status keluarga.
Semuanya tampak biasa saja sampai mata Tito menyipit. “Wait… ini apa?” Ia memperbesar satu kolom.
Status ayah: Satria Saputra – mantan narapidana.
Kasus: Penggelapan dana proyek.
Kuasa hukum: Dr. Arman Syailendra, M.H
Suasana gazebo seketika membeku.
Hanum yang semula duduk tegak, perlahan menurunkan sendok kecilnya yang tadi masih menahan sisa camilan. Matanya terpaku pada nama itu—nama ayahnya sendiri.
“Ini… ini nggak mungkin salah, kan?” Suara Nadine tercekat, menoleh ke Hanum dengan wajah bingung.
Helmi menyandarkan punggungnya, menatap kosong ke atap gazebo. “Makin lama, ini kasus kayak muter balik lagi ke lingkaran kita sendiri.”