Project of 12-A

Firsty Elsa
Chapter #33

Stage-29

Hari Jumat ini terasa berbeda di SMA Nirwana.

Hari terakhir Ujian Tengah Semester seharusnya menjadi hari yang paling ditunggu oleh para siswa. Biasanya setelah ujian selesai, suasana sekolah berubah menjadi lebih santai—ada yang sudah merencanakan pulang cepat, ada yang berencana nongkrong di kafe dekat sekolah, bahkan beberapa sudah membicarakan rencana liburan singkat.

Tapi bagi Hanum, hari ini tidak terasa seperti itu sama sekali. Hanum menatap layar komputernya. Soal terakhir pilihan ganda mata pelajaran bahasa Inggris baru saja ia jawab. Ia memilih C. Kursor kecil di layar berkedip pelan, menunggu keputusan berikutnya. Hanum menarik napas pelan lalu menekan tombol Submit. Beberapa detik kemudian, layar menampilkan tulisan bahwa ujian telah berhasil dikumpulkan.

Hanum melirik jam tangannya. Masih 40 menit tersisa. Sebagian besar siswa di ruangan itu masih terlihat serius membaca ulang soal mereka. Beberapa bahkan masih terlihat kebingungan menatap layar.

Hanum tahu dirinya bisa saja memanfaatkan sisa waktu itu untuk mengecek kembali jawabannya. Tapi dia tidak melakukannya. Hanum memang selalu seperti itu. Jika ia sudah memilih jawaban, maka itu berarti ia sudah memikirkannya dengan matang. Mengubah jawaban di menit-menit akhir justru sering membuat orang meragukan logikanya sendiri.

Hanum menoleh ke sekeliling. Beberapa teman sekelasnya masih menunduk membaca soal dengan wajah tegang. Suara ketukan keyboard sesekali terdengar di ruangan yang hampir sepenuhnya sunyi itu. Namun pikiran Hanum sudah tidak lagi berada di soal ujian. Pikirannya kembali pada percakapan semalam dengan ayahnya.

Tentang Ranu Saputra. Tentang berkas lama yang hampir tidak pernah lagi dibuka. Dan tentang satu fakta yang membuatnya tidak bisa tidur semalaman. Hanum menelan ludah pelan. Ia sudah membuat keputusan. Selesai ujian hari ini, ia akan memberi tahu semuanya kepada teman-temannya. Apa pun reaksi mereka nanti.

Hanum berdiri dari kursinya. Beberapa siswa sempat meliriknya ketika ia berjalan menuju meja pengawas. Setelah memastikan jawabannya sudah terkirim, Hanum keluar dari ruang ujian dengan langkah cepat.

Begitu pintu ruang ujian tertutup di belakangnya, udara koridor terasa jauh lebih lega.

Hanum baru saja hendak berjalan ke arah tangga ketika dua orang keluar dari ruang sebelah hampir bersamaan. Helmi dan Elang.

Helmi terlihat seperti baru saja selesai berlari maraton—wajahnya sedikit tegang, rambutnya sedikit berantakan, dan alisnya bertaut seperti sedang memikirkan sesuatu. Sedangkan Elang masih seperti biasa. Tenang. Santai. Tapi Hanum cukup mengenalnya untuk tahu bahwa ketenangan itu tidak sepenuhnya nyata. Tatapan Elang terlihat lebih tajam dari biasanya. Mereka bertiga saling menatap beberapa detik.

“Han!” Helmi yang pertama memanggil saat matanya menangkap sosok Hanum yang berdiri tidak jauh dari mereka. Hanum berjalan menghampiri mereka.

“Udah?” tanya Helmi.

Hanum mengangguk pelan. “Udah.”

Helmi menghela napas panjang. “Gila sih, ini soal reading-nya panjang banget. Gue kira tadi bakal kehabisan waktu.”

Elang mendengus kecil di sampingnya. “Kalau lo baca semua kalimatnya, jelas habis waktu.”

Helmi menoleh kesal. “Ya masa gue nggak baca?”

Elang mengangkat bahu santai. “Scanning. Cari keyword. Selesai.”

Helmi menggeleng tidak percaya. “Lo tuh kadang nyebelin banget tau.” Elang hanya menyeringai tipis.

Hanum yang dari tadi diam akhirnya bicara. “Kalian juga selesai cepat.”

Helmi mengangkat bahu. “Lumayan. Sisa setengah jam tadi.”

Elang melirik Hanum sekilas, lalu bertanya dengan nada yang lebih serius. “Lo juga?” Hanum mengangguk. Beberapa detik mereka bertiga terdiam. 

Helmi memperhatikan wajah Hanum dengan lebih teliti. “Han,” katanya pelan, “lo kenapa?”

Hanum sedikit mengernyit. “Maksudnya?”

“Wajah lo,” Helmi menunjuk pelan, “kayak lagi mikirin sesuatu berat.”

Elang juga memperhatikan Hanum sekarang. “Semalem lo jadi ngomong sama bokap lo?”

Pertanyaan itu membuat Hanum terdiam sejenak. Ia melihat ke kanan dan kiri koridor. Beberapa siswa mulai keluar dari ruang ujian lain. Hanum menurunkan suaranya sedikit. “Iya.”

Helmi langsung menegakkan badan. “Dan?”

Hanum menghembuskan napas perlahan. “Gue dapet sesuatu.”

Elang menyilangkan tangan di dadanya. “Something good atau something bad?”

Hanum menatap mereka berdua. “Both.”

Helmi mengerutkan kening. “Han, jangan mulai ngomong kayak villain film thriller deh.”

Elang tertawa kecil. “Tapi emang biasanya kalau Hanum ngomong gitu, berarti serius.”

Hanum menatap mereka dengan ekspresi yang tidak biasa. “Ada beberapa hal yang harus kita bahas.”

Helmi langsung bertanya cepat, “Sekarang?”

Hanum menggeleng. “Tunggu semua lengkap dan bukan di sini”

Elang mengangguk pelan. “Rumah Tito?” 

Hanum berpikir sejenak lalu mengangguk. “Boleh, sekalian kita baha.s data Elang kemaren. Seperti biasa.”

Helmi langsung mengangkat tangan seperti sedang menyetujui rapat. “Deal.” Lalu ia melirik jam tangannya. “Tapi kita nunggu Nadine sama Tito dulu kan?”

“Jelas,” kata Elang.

Lihat selengkapnya