Sore itu perlahan berubah menjadi malam. Lampu di ruang investigasi milik Tito sudah menyala semua. Tiga monitor besar di meja komputer memancarkan cahaya kebiruan yang membuat ruangan itu terasa seperti ruang kerja detektif profesional, bukan tempat berkumpul lima remaja SMA.
Di papan investigasi, beberapa catatan baru mulai ditempel. Nama Ranu Saputra kini berada di tengah papan dengan beberapa garis merah yang menghubungkannya dengan informasi lain.
Tito mengetik cepat di keyboard-nya. Suara clack clack clack memenuhi ruangan. Helmi berdiri di depan papan investigasi sambil membaca ulang data yang mereka punya. Elang duduk sedikit bersandar di kursinya dengan tablet di tangannya, menelusuri dokumen yang tadi ia kirim ke grup mereka.
Sedangkan Hanum dan Nadine duduk di sofa, membuka beberapa file digital dari laptop Nadine. Beberapa menit mereka bekerja dalam diam.
Lalu Nadine tiba-tiba bersandar ke belakang. “Okay…” katanya pelan. “I think we need to organise this first.” Ia menatap papan investigasi. “Because right now it looks like a conspiracy board from a Netflix documentary.”
Helmi tertawa kecil. “That's literally what it is.”
Tito masih fokus pada komputernya. “Not helping.”
Elang akhirnya bicara. “Start from the basics.” Ia menaruh tabletnya di meja kecil. “Kita cocokkan dulu dua hal.” Ia menunjuk papan. “Background keluarga Ranu.” Lalu menunjuk Hanum. “Dan kasus yang ayah lo tangani.”
Hanum mengangguk. “Right.”
Helmi mengambil spidol dari meja. “Okay, let's break this down.” Ia menulis di papan. SATRIA SAPUTRA Di bawahnya ia menulis beberapa poin. “Kasus penggelapan dana proyek,” kata Helmi.
“Ditangani Arman Syailendra.” Hanum menambahkan dari sofa. “Tapi sebenarnya dia dijebak.”
Helmi menulis lagi. SCAPEGOAT
Nadine menyela. “Which means there was a real culprit.”
Helmi menoleh. “Exactly.”
Elang berdiri lalu berjalan ke papan. Ia membuka tablet dan menunjukkan beberapa data. “Ini data yang gue dapat tentang keluarga Ranu.” Ia menunjuk salah satu dokumen. “Satria Saputra pernah kerja di perusahaan konstruksi besar.”
Tito langsung menoleh dari komputernya. “Which one?”
Elang membaca nama di layar. “PT Muara Infrastruktur.”
Tito langsung mengetik sesuatu. “Hold on…” Beberapa detik kemudian ia bersiul pelan. “Well… that’s interesting.”
Helmi menoleh. “Kenapa?”
Tito memutar monitornya sedikit agar semua bisa melihat. “PT Muara Infrastruktur itu pernah jadi kontraktor proyek pemerintah.”
Hanum mengerutkan kening. “So?”
Tito tersenyum tipis. “So guess who funded that project.” Ia membuka satu dokumen lagi. Di layar muncul satu nama besar. CM FOUNDATION
Ruangan tiba-tiba terasa lebih sunyi. Nadine mencondongkan tubuh ke depan. “Wait…” Ia memperhatikan layar lebih dekat. “You’re telling me the foundation was connected to the project?”
Tito mengangkat bahu. “Looks like it.”
Helmi bersiul pelan. “Okay… this is getting bigger.” Elang menatap layar dengan serius.
“Berarti kemungkinan besar…” Hanum melanjutkan kalimatnya. “…orang yang dijatuhkan dalam kasus itu adalah Satria.”
Nadine menggeleng pelan. “That’s insane.” Ia menyilangkan tangannya. “So the foundation might have been involved in framing him?”
Tito mengetik lagi. “Too early to say.”
Helmi menoleh ke arah Hanum. “Han… ayah lo bilang sesuatu lagi tentang foundation itu?”
Hanum berpikir sejenak. “Ayah cuma bilang satu hal.” Mereka semua menatapnya. “CM Foundation bukan lawan biasa.”
Beberapa detik mereka diam. Lalu Nadine tiba-tiba membuka laptopnya lebih cepat. “Okay, now I’m curious.”
Ia mulai mengetik di browser. “Let’s see what kind of monster this foundation actually is.”
Beberapa halaman website terbuka. Profil yayasan. Daftar program. Artikel berita. Nadine membaca cepat. “Wow.”