Pagi datang lebih cepat dari yang mereka sadari. Langit di luar jendela ruangan Tito mulai berubah warna dari hitam pekat menjadi abu-abu pucat. Sinar matahari pertama perlahan masuk lewat tirai yang tidak tertutup sempurna. Jam di dinding menunjukkan 06.12 pagi. Tito masih duduk di kursinya. Matanya merah karena kurang tidur, tapi otaknya masih berjalan seperti mesin yang belum dimatikan.
Beberapa file baru sudah tersimpan di komputernya. Sementara itu Helmi sudah tertidur setengah duduk di kursinya dengan kepala bersandar ke dinding. Elang masih terjaga, tapi jelas juga sudah kelelahan. Ia berdiri sambil meregangkan tubuhnya. “Okay,” katanya pelan. “Gue rasa kita udah cukup buat malam ini.”
Tito tidak langsung menjawab. Ia menutup satu jendela program terakhir. “Iya.”
Hanum yang baru bangun dari sofa mengucek matanya. “Jam berapa ini?”
Elang melirik jam. “Pagi.”
Hanum langsung menghela napas panjang. “Gila…”
“Besok—eh, nanti siang kita lanjut lagi,” kata Tito sambil meregangkan tubuhnya yang sudah mulai kaku.
Hanum berdiri sambil mengambil tasnya. “Setuju. Gue udah nggak bisa mikir.”
Elang juga mengambil jaketnya. “Gue anter kalian.”
Helmi langsung berdiri. “Nice.” Mereka berjalan keluar ruangan. Namun Nadine tidak terlihat di sana.
Hanum mengerutkan kening. “Eh, Nadine dimana?”
Tito menunjuk ke arah lorong. “Mandi.”
Helmi mengangkat alis. “Di sini?”
Tito mengangkat bahu. “Iya, biarin nanti gue yang anterin dia pulang.”
Elang hanya tertawa kecil. “Classic Nadine.”
Beberapa menit kemudian mereka bertiga sudah berada di depan rumah Tito. Elang membuka mobilnya. “Oke. Kita pulang dulu.”
Hanum menoleh ke arah Tito. “Gue nitip Nadine.”
Tito mengangguk. “Gue tahu.” Lalu mereka masuk mobil Elang. Beberapa detik kemudian mobil itu pergi meninggalkan rumah Tito. Rumah kembali sepi. Tito berdiri sebentar di ruang tamu sebelum akhirnya berjalan kembali ke dalam.
Suara air dari kamar mandi masih terdengar. Ia melirik jam. Matanya sempat melirik layar komputer di ruang investigasi. Di sana muncul satu notifikasi kecil yang sempat ia abaikan semalam. Pesan dari Dr. Isra. Psikiater yang menangani ibunya.
Tito, kita perlu bertemu pagi ini. Ada hal yang harus kita bicarakan.
Tito menghela napas pelan. Ia sudah tahu pembicaraan seperti ini tidak pernah membawa kabar baik. Ia berjalan ke kamar mandi kedua untuk mandi cepat. Ketika Tito keluar sekitar dua puluh menit kemudian—aroma makanan sudah memenuhi rumah. Ia berhenti di dapur.
Nadine berdiri di sana dengan rambut masih sedikit basah, mengenakan kaos milik Tito yang terlalu besar untuknya. Di atas meja dapur ada dua piring sarapan sederhana. Telur, roti panggang, dan kopi. Tito menatapnya beberapa detik. “…lo ngapain?”
Nadine menoleh santai. “Making breakfast.”
Tito mengerutkan kening. “Nggak perlu repot-repot, Nad.”
Nadine mengangkat bahu. “Relax.” Ia mendorong salah satu piring ke arah Tito. “Makan dulu.”
Tito duduk di kursi dapur. Ia tidak protes lagi. Beberapa menit mereka makan dalam diam.
Lalu Nadine berkata pelan, “Jam berapa kita ke rumah sakit?”
Tito berhenti mengunyah. Ia menatap Nadine. “…what?”
Nadine menyesap susunya. “Don’t look at me like that.”
Tito menyipitkan mata. “Lo tahu?”
Nadine menunjuk ke arah ruang investigasi. “Your computer notification.”
Tito menghela napas pelan. “…gue sebenarnya mau anter lo pulang dulu.”
Nadine menggeleng. “No.”
Tito menatapnya. “Nad—”
“I’m coming.” Nada suaranya tidak memberi ruang untuk debat.
Tito akhirnya menyerah. “Fine.”
***
Rumah sakit tempat ibunya dirawat berada di pinggir kota. Bangunannya besar, tapi suasananya cukup tenang. Ini bukan rumah sakit umum biasa. Tito berjalan di koridor dengan langkah cepat. Nadine berjalan di sampingnya. Mereka berhenti di depan ruang kerja Dr. Isra. Tito mengetuk pintu.
“Masuk.” Dokter Isra duduk di balik mejanya.
Pria berusia sekitar empat puluh tahun itu melepas kacamatanya ketika melihat Tito masuk. “Ah, Tito.” Lalu ia melihat Nadine. “Dan…?”
Nadine tersenyum sopan. “Nadine.”