Project of 12-A

Firsty Elsa
Chapter #36

Stage-32

Mobil Tito melaju pelan meninggalkan area kafe es krim itu. Matahari siang sudah sedikit condong, membuat cahaya hangat jatuh melalui kaca depan mobil. Beberapa menit pertama perjalanan diisi dengan keheningan yang nyaman. Radio mobil menyala pelan, memainkan lagu indie yang Nadine tidak terlalu perhatikan. Ia menyandarkan kepalanya ke jendela sambil melihat deretan bangunan yang lewat. 

Tito mengemudi dengan satu tangan di setir. Sesekali ia melirik Nadine. Ada sesuatu yang ingin ia tanyakan sejak tadi. Namun, ia juga tahu Nadine bukan orang yang suka didesak. Akhirnya Tito membuka pembicaraan dengan nada santai. “So…”

Nadine menoleh sedikit. “Hmm?”

Tito tetap fokus ke jalan. “Gue boleh nanya sesuatu?”

Nadine mengangkat alis. “Depends.”

Tito tersenyum kecil. “Kalau lo nggak nyaman, you can just ignore it.”

Nadine memiringkan kepala, sedikit penasaran. “Oke. Tanyain aja dulu.”

Tito berhenti sebentar, seolah memilih kata-kata yang tepat. “Keluarga lo…” ia berkata pelan. “…mereka tinggal di kota ini juga?”

Nadine tidak langsung menjawab. Ia memandang keluar jendela sebentar. Tidak terlihat tersinggung. Lebih seperti sedang mengingat sesuatu. “Yeah,” katanya akhirnya. “Mereka ada di sini.”

Tito mengangguk kecil. "Kenapa nggak tinggal sama mereka?” 

"For what?" Nadine tertawa getir. "Setelah semua hal yang mereka lakukan? I think..." Nadine berhenti sejenak, mencari kata yang tepat. Ia masih menatap keluar jendela mobil. Jalanan siang itu bergerak pelan di depan mereka. “…I just don’t want to pretend.”

Tito tidak langsung menanggapi. Ia hanya tetap fokus menyetir, memberi ruang agar Nadine melanjutkan ceritanya. Nadine menarik napas kecil. “Lo tau rasanya pulang ke rumah… tapi rumah itu udah bukan rumah yang sama lagi?”

Tito meliriknya sebentar. Nadine tersenyum tipis, tapi senyum itu tidak sepenuhnya hangat. “Setelah mereka pisah, dua-duanya mulai kehidupan baru. New partner, new family, new routines.” 

Ia membuat gerakan kecil dengan tangannya, seolah menyusun sesuatu yang berantakan. “Dan tiba-tiba gue harus duduk di meja makan yang sama sama orang-orang yang… gue bahkan nggak kenal.”

Tito mengerutkan kening sedikit. Nadine melanjutkan, “Bukan karena mereka orang jahat.” Ia menggeleng pelan. “Sebagian dari mereka bahkan baik banget.”

“Tapi?”

“Tapi mereka muncul di tengah hidup gue dan semua orang berharap gue langsung nerima mereka sebagai keluarga.” Ia tertawa kecil, kali ini lebih pahit. “Like… ‘this is your new brother’, ‘this is your new mom’, ‘this is your new dad’.”

Nadine mengangkat kedua bahunya sedikit. “And I was like… no.

Tito tetap diam. Ia tidak memotong.

Nadine menatap ke depan sekarang. “Gue nggak mau bangun pagi dan lihat orang asing di dapur tapi harus manggil mereka keluarga.” Ia berhenti sebentar. “Gue nggak mau pura-pura nyaman.” 

Suara Nadine tidak keras. Justru sangat tenang. “Tiap kali gue ke rumah mama, ada keluarga barunya. Tiap kali gue ke rumah papa, ada keluarga barunya juga.” Ia menghela napas kecil. “Dan mereka semua baik.”

Tito meliriknya. “Tapi?”

Nadine tersenyum tipis lagi. “But they’re not my people.

Mobil mereka melewati persimpangan besar sebelum akhirnya masuk ke jalan yang lebih kecil menuju area kafe Tito. Nadine menyandarkan punggungnya ke kursi. “Jadi daripada gue harus lihat mereka setiap hari… daripada gue harus adaptasi sama kehidupan baru yang bukan pilihan gue…” ia mengangkat bahu. “…gue pindah.”

Tito sedikit mengerutkan alis. “Sendiri?”

Lihat selengkapnya