Project of 12-A

Firsty Elsa
Chapter #37

Stage-33

Bel kecil di pintu kafe berbunyi pelan ketika Tito dan Nadine masuk. Helmi langsung mengangkat kepala dari gelas minumannya. “Akhirnya.” Ia menyilangkan tangan di meja. “Kalian ke mana aja sih? Kita udah di sini hampir setengah jam.”

Hanum menoleh dari laptopnya. “Serius. Gue kira kalian nggak bakal datang juga.”

Elang hanya menatap mereka berdua sekilas, lalu tersenyum tipis. “Tenang aja, mereka datang, akhir aja.”

Nadine menarik kursi di sebelah Hanum dan duduk santai. “Macet, you know lah.”

Helmi menyipitkan mata. “Macet apa macet?” godanya.

Nadine langsung menendang kaki Helmi di bawah meja. “Shut up.”

Tito duduk di kursi yang menghadap mereka semua. Ekspresinya kembali serius, berbeda jauh dengan suasana santai beberapa menit lalu. Ia menaruh ponselnya di meja. “Oke.” Semua langsung sedikit lebih fokus. “Let’s start.”

Hanum menutup laptopnya setengah. Helmi berhenti memainkan sedotannya. Elang mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan. 

Tito melanjutkan, “Gue udah tahu satu hal penting.” Ia melihat satu per satu wajah mereka. “CM Foundation terlalu besar buat kita serang dari luar.”

Helmi mengangguk. “Agree.”

Tito mengetuk meja pelan dengan jarinya. “Jadi kita butuh celah.”

Hanum mengernyit. “Celah gimana?”

Tito menjelaskan dengan tenang, “gue perlu akses ke jaringan internal mereka.”

Elang langsung mengerti arah pikirannya. “Server mereka.”

Tito mengangguk. “Exactly.” Ia melanjutkan, “Kalau gue bisa nangkep sinyal dari dalam gedung mereka, gue punya kemungkinan buat masuk ke sistem CCTV mereka.”

Helmi menaikkan alis. “Possibility?”

Tito mengangguk. “Minimal gue bisa lihat pergerakan di dalam gedung itu.”

Hanum bersandar sedikit. “Tapi kita harus masuk dulu ke sana.”

Right,” kata Tito. “Dan kita nggak bisa masuk sebagai siswa random yang tiba-tiba datang. Kita perlu cara lain.”

Helmi tertawa kecil. “Yeah that would be suspicious.

Beberapa detik mereka semua berpikir. Nadine yang sejak tadi membuka tablet miliknya tiba-tiba mengangkat kepala. “Wait.”

Semua menoleh ke arahnya. Nadine men-scroll layar dengan cepat. “Gue lagi lihat daftar karyawan mereka.”

Tito mencondongkan tubuhnya sedikit. “Anything interesting?”

Nadine tidak langsung menjawab. Ia memperbesar salah satu nama di layar. Ekspresinya berubah sedikit. “Hmm.”

Elang memperhatikan itu. “Apa?”

Nadine menatap layar sekali lagi, memastikan ia tidak salah baca. Lalu ia menoleh ke Elang. “Lang.” Nadine berkata pelan, “Lo inget nggak… Khairunnisa itu nama tengah keluarga siapa?”

Elang terlihat berpikir. “Khairunnisa…” Ia mengulang nama itu pelan.

Hanum dan Helmi hanya saling pandang, jelas tidak mengerti. Nadine memutar tablet menghadap mereka. Di layar tertulis: Ratna Khairunnisa–Finance Admin Staff, Citra Mandiri Foundation

Elang menyipitkan mata. “Wait…” Ia terlihat seperti sedang menarik memori lama. “Khairunnisa…”

Lihat selengkapnya