Project of 12-A

Firsty Elsa
Chapter #35

Stage-34

Sore itu, langit mulai meredup perlahan, meninggalkan semburat jingga yang menggantung tipis di antara pepohonan rindang kawasan elit itu. Mobil hitam milik Elang berhenti tepat di depan sebuah rumah besar dengan pagar putih tinggi yang terbuka setengah. Tidak semegah rumah utamanya sendiri, tapi tetap menyimpan kesan tenang dan lebih hangat, lebih “hidup”.

Elang turun tanpa banyak ekspresi. Langkahnya ringan, tapi tujuannya jelas. Begitu melewati pagar, aroma tanah basah langsung menyambut. Di halaman depan, seorang wanita paruh baya berdiri dengan selang air di tangannya, menyiram deretan bunga yang tertata rapi di sepanjang jalan setapak.

Air memercik pelan, memantulkan cahaya sore. Wanita itu menoleh. Dan senyum langsung terlukis di wajahnya. “Elang?” Nada suaranya hangat. Tidak dibuat-buat.

Elang berhenti sejenak. “Iya, Tan.”

Tante Kaluna mematikan aliran air, lalu melangkah mendekat sedikit. Wajahnya tetap lembut, seolah tidak ada beban apa pun dari dinamika keluarga besar yang selama ini cukup rumit. “Tumben kamu ke sini sendirian?” tanyanya ringan.

Elang mengangguk kecil. “Iya.” Tidak ada pertanyaan lanjutan yang menekan. Tidak ada sindiran. Tidak ada basa-basi berlebihan. Itulah yang membuat Elang… tidak pernah benar-benar keberatan datang ke rumah ini.

Tante Kaluna menatapnya sebentar, lalu tersenyum lagi. “Mau ketemu Andre?”

Elang memasukkan tangannya ke saku jaket. “Iya, Tan. Andre ada di rumah, kan?”

“Ada,” jawabnya santai. “Tadi sih di kamar. Kayaknya lagi tidur.”

Elang mengangguk pelan. Sejenak hening, hanya suara air yang masih menetes dari ujung selang. “Masuk aja,” lanjut Tante Kaluna, sedikit menggeser tubuhnya memberi jalan. “Nggak usah sungkan.”

Elang mengangguk lagi. “Makasih, Tan.” Saat ia berjalan melewati wanita itu, Tante Kaluna sempat menepuk ringan bahunya, gestur kecil yang terasa… tulus. “Hati-hati bangunin dia,” ucapnya setengah bercanda. “Mood-nya suka nggak jelas kalau baru bangun.”

Elang hanya mengangkat sudut bibirnya tipis. “Makasih infonya, Tante.”

Bagian dalam rumah itu terasa jauh lebih tenang. Lampu-lampu sudah mulai menyala, tapi tidak terlalu terang. Suasana hangat, dengan aroma kayu dan sedikit wangi kopi yang tertinggal di udara. Elang berjalan tanpa ragu. Ia sudah terlalu hafal rumah ini. Tangga di sisi kanan, lorong panjang, lalu pintu kedua dari ujung. Langkahnya tidak terburu-buru. Tapi juga tidak santai. Ada sesuatu di pikirannya. 

Sesampainya di depan pintu kamar, ia berhenti sejenak. Pintu itu tertutup. Sunyi. Elang mengangkat tangannya, sebelum akhirnya mengetuk. Tidak terlalu keras.

Tok. Tok.

Tidak ada jawaban. Ia menarik napas pelan, lalu tanpa menunggu lebih lama, gagang pintu ditekan. Pintu terbuka perlahan. Cahaya dari luar masuk ke dalam kamar yang sedikit gelap. Dan di dalam sana—Andre benar-benar tertidur. Terbaring setengah miring di atas kasur, dengan satu tangan menutupi wajahnya, earphone masih terpasang di telinganya. Layar laptop di meja samping masih menyala, menampilkan sesuatu yang belum sempat ditutup.

Elang berdiri di ambang pintu. Menatap sebentar. Lalu melangkah masuk. Pintu di belakangnya tertutup pelan. Dan suasana di dalam kamar itu, langsung berubah. Andre benar-benar tidak berubah. Tidur sembarangan, posisi tidak jelas, earphone masih berada di telinga, laptop menyala dengan puluhan tab terbuka dari dokumen tugas, jurnal PDF, sampai halaman yang entah kapan terakhir dia buka.

Elang menghela napas pelan. “Berantakan banget hidup lo,” gumamnya datar. Tidak ada jawaban, tentu saja. Ia melangkah lebih masuk, menutup pintu pelan di belakangnya. Pandangannya sempat berhenti di layar laptop Andre. Elang cuma melirik sekilas. Lalu… memilih mengabaikan. Fokusnya bukan itu. Ia menoleh lagi ke kasur. Andre masih tidur. 

Elang mendecak pelan. “Capek hidup, ya.” Tanpa banyak pikir, ia mendekat ke kasur, lalu—dengan santainya—menyenggol bahu Andre sedikit. Tidak bangun. Ia mendorong lagi.

Andre hanya bergeser sedikit… lalu lanjut tidur. “Elah.” 

Akhirnya, tanpa basa-basi, Elang langsung mendorong tubuh Andre agak ke pinggir kasur. “Geser.” Tidak ada respon. Dengan satu gerakan malas, ia ikut merebahkan diri di samping Andre, setengah memaksa ruang untuk dirinya sendiri. Kasur itu cukup besar, tapi tetap terasa sempit dengan dua orang yang tidak niat berbagi tempat.

Elang menghela napas panjang, menatap langit-langit kamar. Beberapa detik hening. Lalu tangannya meraih ponsel dari saku. Dia memilih bermain game sembari menyiapkan energi untuk berdebat dengan sang sepupu. Awalnya pelan. Lalu—tanpa sadar—volume naik sedikit demi sedikit. Beberapa menit berlalu. Suara game makin terdengar. Ditambah lagi, Elang tiba-tiba membuka musik dari tabletnya. 

Beberapa detik. Andre mulai bergerak. Alisnya mengernyit. Tangannya yang tadi menutup wajah bergeser pelan. Suara musik makin masuk ke telinganya. “Anjing—” Andre langsung bangun setengah duduk dengan wajah kusut total, rambut acak-acakan, mata masih setengah kebuka. “Lo ngapain di sini, cok?!”

Elang bahkan tidak menoleh. Masih fokus ke layar. “Main.” 

Lihat selengkapnya