Lift berhenti dengan bunyi ting pelan.Elang melangkah keluar dengan santai, kedua tangan masuk ke saku jaketnya. Lorong apartemen itu sepi, hanya diterangi lampu hangat yang memantul di lantai marmer. Langkahnya tenang, tapi pikirannya jelas tidak. Semuanya berputar rapi di kepalanya. Ia berhenti di depan pintu unit yang sudah sangat familiar. Tanpa ragu, tangannya langsung menekan bel. Sebenarnya bisa saja dia langsung masuk, karena selain Nadine sendiri, dia juga pemegang password apartemen itu. Tetapi Elang menghargai Nadine sebagai pemiliknya.
Pintu terbuka. Dan—bukan Nadine yang berdiri di sana. Elang mengerjap sekali. Di depannya adalah Tito. Dengan kaos santai, rambut masih agak basah, satu tangan masih memegang handuk kecil. Mereka saling tatap. Hening untuk beberapa detik.
“Lo ngapain di sini?” tanya Elang pelan, tapi nadanya mulai menusuk.
Tito menyandarkan bahu ke kusen pintu, santai. “Gue? Nggak ngapa-ngapain.”
Alis Elang terangkat tipis. “Serius?”
“Serius.”
Tatapan Elang makin tajam. “Terus kenapa rambut lo basah?”
Tito langsung mengangkat handuknya sedikit. “Mandi, kocak. Lo nggak liat gue bawa handuk?”
Elang mendecak kecil. “Tumben lo mandi di sini dah.”
Tito langsung menatapnya datar. “Suka-suka gue lah.”
Beberapa detik hening lagi. Akhirnya Tito geser sedikit, memberi jalan. “Lo masuk nggak nih?”
Elang masih menatapnya beberapa detik, lalu akhirnya masuk tanpa komentar. Pintu ditutup. Ruang tamu apartemen Nadine terlihat rapi seperti biasa. Lampu hangat menyala, suasananya tenang—terlalu tenang. Tito berjalan duluan ke arah sofa, lalu duduk santai seolah tidak ada yang aneh. Elang masih berdiri sebentar, matanya menyapu ruangan, lalu kembali berhenti di Tito.
“Dapet apa lo dari Andre?” tanya Tito lebih dulu, mencoba mengalihkan.
Elang tidak langsung menjawab. “Ntar dulu,” katanya pelan. “Nadine mana?”
“Lagi mandi.”
Jawaban itu justru bikin Elang diam. Lama. Perlahan, ia menoleh lagi ke arah Tito. Tatapannya sekarang… jauh berbeda. Lebih tajam. “Kalian habis ngapain jam segini baru mandi?”
Tito langsung mendengus kesal. “Ya suka-suka gue, anjir.”
Elang melangkah mendekat sedikit, masih menatapnya. “Berduaan di sini. Jam segini baru mandi.”
“Anjir…” Tito mulai mengusap wajahnya kasar.
Elang menyipitkan mata. “Kalian nggak habis—”
“GUE KAGAK MESUM ANJIRRRR!” Tito langsung meledak, suaranya menggema di ruang tamu. Hening. Beberapa detik. “Gue cuma main di sini, sambil nungguin lo tadi. Terus gue mandi karena gue capek. Udah gitu aja, lo mikirnya kejauhan banget sih!”
Elang masih diam. Beberapa detik lagi. Lalu ia menghembuskan napas pelan, menoleh sedikit. “Lebay.”
Tito langsung melotot. “LO YANG NUDUH ANEH-ANEH!”
Belum sempat Elang menjawab, suara langkah terdengar dari arah kamar. Dua detik kemudian, Nadine muncul. Rambutnya masih setengah basah, mengenakan pakaian santai, ekspresinya… datar, tapi jelas mendengar bagian terakhir. Ia berhenti melihat mereka berdua.
“What did I just walk into?”
Sunyi. Tito langsung menunjuk Elang. “Dia duluan!”
Elang tidak terima. “Lo yang bikin situasinya makin aneh.”
Nadine menghela napas panjang. “God… kalian berdua capek nggak sih?” Ia berjalan mendekat, lalu duduk santai di sofa, di antara mereka tanpa peduli apa yang diributkan. “Kalau udah selesai drama nggak pentingnya,” katanya tenang, “boleh kita balik ke hal yang lebih penting?”
Elang dan Tito masih saling tatap sebentar. Lalu sama-sama mengalihkan pandangan. Nadine menyilangkan kaki, menatap Elang. “So,” katanya pelan. “You came here for a reason.”
Elang akhirnya kembali fokus. “Iya.”